Udara hari ini lumayan dingin. Ya tentu saja, baru saja tadi malam hujan. Tidak terasa liburan musim panas telah berakhir, dan kami harus pergi sekolah lagi, belajar lagi,tugas lagi. Ya, tapi harus semangat, karena sebentar lagi natal, dan tentu saja klub vokalku pasti ikut memeriahkan! Jadi nggak sabar juga nunggunya…
“Vinnie…!!!” tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang. Aku segera menoleh, dan orang berambut coklat pendek yang dikuncir dengan mata coklat itu segera melompat memelukku, sampai aku hampir terjungkal. Tidak salah lagi, dia adalah Kikan Louvinne, sahabatku. Dia adalah teman pertamaku ketika aku pertama masuk ke sekolah ini setahun yang lalu. Aku memang anak yang pemalu dan penakut. Tapi, berkat dia aku menjadi punya teman dan mulai bias bergaul dengan yang lainnya.
“Kangen..!! Sudah lama banget kita berpisah!!” kata Kikan.
“Haha.. liburan kita yang sebulan kan sebagian kita gunakan untuk wisata bersama. Jadi nggak terlalu lama kok berpisahnya..” kataku.
“Hihii.. iya sih. Tapi kangen juga. Selain itu aku juga merindukan main baseball, dodge ball, lompat jauh, dan lainnya!” kata Kikan dengan mata berbinar. Kikan memang sedikit tomboy.
“Ooh, nanti selesai klub atletik, datang ke kebun belakang sekolah ya, aku bawa short bread isi irisan ayam dan teh. Pasti menyenangkan.” Kataku.
“Kyaaa…!! Vinnie memang yang terbaik!!” Teriak Kikan sambil memelukku sampai aku susah bernapas.
“Huh? Short bread dengan irisan ayam?” Tiba-tiba ada orang yang muncul di belakang. Kita tidak menoleh.
“MINTA DONG…!!!” teriak orang itu sambil merangkul kami. Aku kaget.
“MINTA DONG…!!!” teriak orang itu sambil merangkul kami. Aku kaget.

“LUKE…!! PERGI SANA …!!” teriak Kikan sambil menendang Luke- cowok berambut coklat muda-cowok paling nakal dan jahil di kelas kami. Dia adalah teman Kikan dari SD. Dari dulu mereka memang terkenal akrab dan selalu bertengkar. Luke memang suka menjahili Kikan. Jika Kikan marah, Luke pasti akan tertawa keras. Di tengah tawanya, tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Aku sangat kaget.
“Vinnie..” katanya.
“A.. Apa?” kataku gugup.
“Padahal sudah 16 tahun, Tapi masih kuncir dua dengan pita merah seperti anak SD saja..” Kata Luke sambil cekikikan. Aku yang mendengar itu langsung kaget dan wajahku langsung merah padam karena malu.
“Luke..!! jangan berkata begitu…!” Teriak Kikan sambil memukul-mukul Luke. Luke segera menangkis pukulannya dengan wajah panik.
“E..eh.. bukan begitu! Maksudku adalah Vinnie lucu dengan penampilan begitu! Manis kok..!” Katanya. Mendengar itu, wajahku tambah merah padam tak kalah dengan stroberi. “Nggak kayak kamu yang kasar dan tukang marah! Haaahahahhahhaaaa….!!” Teriak Luke sambil berlari disusul Kikan yang sudah siap dengan seribu tinjunya.
Aku masih berdiri mematung sambil menatap mereka yang berkejar- kejaran. Manis dan lucu. Pendapat Luke tentang aku adalah MANIS DAN LUCU..??!?!!! waaa..!! malu..! wajahku terasa panas. Rasanya udara dinginnya menjadi panas. Wajahku pasti merah, dan suhu tubuhku naik. Aku demam, demam cinta…!!
Sepertinya harus aku akui, aku menyukai Luke. Ya, aku. Kenapa cewek pemalu seperti aku bisa menyukai Luke yang jahil?? Cinta benar-benar aneh dan menyusahkan! Aku pun berjalan ke sekolah dengan pikiran melayang. Sedangkan Kikan dan Luke, sudah jauh di depanku.
Sampai di kelas, aku segera duduk di bangkuku, yang berada di urutan ke empat dekat jendela. Banyak yang menolak duduk di bangkuku, karena agak dibelakang. Tapi, aku malah mengincar bangku ini karena dekat dengan jendela, karena pemandangan sangat bagus dilihat dari kelas kami yang dilantai 3. Selain itu, aku bisa mudah tidur tidak ketahuan guru jika pelajaran membosankan.
Aku memandangi pohon yang berada di depan jendela. daunnya yang hijau kekuningan mulai berguguran. Sebentar lagi musim salju, dan Natal. Wajahku merah lagi. Ya, waktu Natal nanti aku berniat memberikan hadiah untuk Luke. Tapi berani nggak ya?? waa.. aku malu nih!
Bel sudah berbunyi, dan semua murid masuk ke kelas. Aku melihat ke arah luar jendela. Terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap masuk ke pintu gerbang sekolahku. Mobil itu berhenti di parkiran, dan keluarlah seorang berjas hitam. Kelihatannya dia sangat kaya. Dan dari pintu mobil belakang, keluar juga seseorang yang memakai baju seragam sekolah. Tapi, aku tidak mengenalinya, lagipula wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi, siapa dia ya? Sepertinya kaya sekali. Siapa orang yang sekaya itu di sekolah ini ya?
Beberapa menit kemudian, bel berbunyi. Kami masuk ke kelas. Aku melihat Luke dan Kikan masuk ke kelas bersamaan. Rasanya agak iri sih...
Kikan segera duduk di bangkunya yang di agak depan, sambil cemberut. Tiba-tiba, Sherly, Mia, dan Chieko, tiga cewek pakar cinta, mendekati Kikan.
"Eh, tahu nggak, katanya ada cowok pindahan ke sekolah ini lho! dan kebarnya dia cakeeep banget!" Kata Mia.
"Iya! kemarin aku waktu ke ruang guru untuk mengumpul tugas, aku melihat fotonya di daftar murid! Keren banget!" kata Chieko.
"Terus? Apa hubungannya denganku?" jawab Kikan dengan ketus. Sherly menepuk keningnya.
"Dasar nggak peka! Cewek bukan sih? Setidaknya, pakailah lipgloss pink!" Kata Sherly.
"Buat apa? Menghabiskan waktu saja. Untuk apa memakai make up di depan cowok yang kita suka? Berarti kalau kita tidak memakai make up, cowok itu tidak akan suka kita? Itu sih bukan cinta!" Kata Kikan dengan sangat pedas.
"Huh, dasar tomboy! Nanti, kamu pasti akan menelan ludahmu!" Jawab Mia.
"Aku akan menelan ludahku jika aku terlahir kembali untuk yang kelima kalinya! lagipula tidak akan menelan ludahku!" kata Kikan. Tiba-tiba, guru masuk dan tiga cewek itu segera duduk di tempat duduknya.
"Anak-anak, kita kedatangan murid baru," kata guru itu. Aku sudah yakin, pasti orang yang tadi aku lihat itu adalah murid barunya. Aku lihat, banyak anak-anak cewek mulai merapikan rambut, dan lipgloss. Aku sih tidak terlalu peduli.
Setelah guru mempersilakan, anak baru itu kemudian masuk ke kelas. Ternyata benar apa yang dibilang Sherly, Mia, dan Chieko. Anak baru itu lumayan keren. Aku sedikit kaget melihatnya. Dia terkesan "cantik". Rambutnya hitam, kulitnya putih, tapi seperti ras Asia, badannya agak tinggi dan kurus. Wajahnya tenang dan lembut, serta memiliki warna bola mata abu-abu yang agak gelap. Dia seperti anak keturunan Asia-Eropa. Semua cewek-cewek di kelas nampak sangat terpesona. Aku melihat ke arah Kikan. Aku sedikit kaget melihat reaksinya. Ekspresi tercengang, wajah merah, dan salah tingkah. Oh Tuhan! Kikan jatuh cinta pada dia!
"Perkenalkan, saya Ren Akhilles. Saya pindah dari Nottingham. Dari hari ini, saya mohon bantuannya," kata murid pindahan itu, yang ternyata namanya Ren.
"Baiklah Akhilles, silakan duduk di bangku kosong yang ada di belakang," kata Pak Guru. Ren berjalan, dan duduk di sampingku! Dia menoleh ke arahku. Aku agak sedikit salah tingkah. Apa yang harus aku lakukan, ya?
"Perkenalkan, aku Ren. Kamu?" kata Ren sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
"Eh.. A.. Aku Vinnie... Vinnie Sloviskie," kataku sangat gugup. Wajahnya terlihat memerah ingin tertawa. Waaa..!! aku malu!
"Salam kenal ya Vinnie! Kamu lucu sekali!" Kata Ren, yang tentu saja membuatku menjadi sangat malu.
"E.. Eh, masa sih?" kataku.
"Iya! kamu lucu sekali! Hahaha...!" Kata Ren. Aku kaget. Dia sedang mengerjaiku ya??
Akhirnya, bel pulang pun berbunyi. Rasanya jadi sedikit aneh gara-gara ada Ren. Huff..
Tiba-tiba saja, Kikan menepuk pundakku. Tumben tenang, padahal biasanya dia akan bertingkah berlebihan.
"Vinnie... Enak ya kamu duduk dekat Ren..." Kata Kikan.
"Eeh, biasa saja. Dia anaknya suka mengerjai orang lho," Kataku. Aku melihat wajah Kikan memerah. Dia agak sedikit salah tingkah. Dia mengerutkan keningnya, dan sedikit menggelengkan kepala, seperti sedang mengalami perasaan yang aneh.
"Umm.. Kamu suka Ren, ya?" kataku. Kikan nampak shock.
"Eh, kamu ngomong apa? mana mungkin..." kata Kikan.
"Bohong! Wajah merah, rasa deg-degan, salah tingkah, kamu pasti suka dia! Aku sudah mengenalmu, dan aku tahu tingkah lakumu lho," kataku. Kikan menoleh ke arahku.
"Vinnie..!! Aku suka dia! bagaimana ini??" Kata Kikan.
"Kok bagaimana? ya dekati dia!" kataku. "Aku bakal bantu kamu, kok!" kataku lagi. Kikan menoleh ke arah wajahku.
"Benar ya?!" kata Kikan. Aku mengangguk.
"Yey! Thanks Vinnie!" kata Kikan sambil memelukku. Akhirnya dia kembali seperti semula.
"Hai Vinnie.." Tiba-tiba, Ren menepuk pundakku dari belakang! Kamu berdua shock.
"Ha.. Hai Ren, Eh, kenalin, ini sahabatku namanya Kikan Louvinne," kataku.
"Oh, hai Louvinne, aku Ren," kata Ren sambil menjulurkan tangannya.
"Eh, hai Ren. Salam kenal juga," kata Kikan sambil menjabat tangan Ren. Dia sangat sangat malu dan salah tingkah. Aku segera menepuk pundaknya supaya dia tidak terlalu tegang.
"Kamu temannya Vinnie ya?" tanya Ren.
"Iya, aku temannya semenjak SMA," kata Kikan.
"Oh, begitu," jawab Ren. Tiba-tiba saja, Ada seseorang berteriak keras di belakang kami.
"KIKAAAAAAN......!!!!!!" Teriak orang itu, yang tak lain adalah Luke. "Ayo cepat ke ruang klub atletik!!"
"Sialan orang itu!" bisik Kikan. "Eh, maaf ya Ren, Vinnie, aku harus segera ke klub atletik," kata Kikan.
"Oh, baiklah! Hati-hati ya!" kataku. Kikan segera berlalu. Kini, tinggal aku dan Ren.
"Vinnie, antarkan aku keliling sekolah, mau tidak?" tanya Ren.
"Eh, boleh, ayo aku antarkan," kataku agak gugup.
"Oke, sip! Ayo!" kata Ren sambil menarik tanganku. Rasanya benar-benar malu!
Kami berjalan-jalan ke halaman belakang. Aku menjelaskan satu-satu ruangan, dan kelas-kelas di sekolah ini. Kita juga mengobrol banyak hal. Awalnya aku yang agak takut dan malu berbicara dengannya, jadi terbiasa. Dia orangnya sangat seru jika diajak ngobrol. Jika bersama dia, rasanya aura jadi berubah.
Akhirnya kita sampai di kandang kelinci. Aku sangat menyukai tempat ini. Aku mengelus-elus kelinci disana.
"Kamu suka kelinci, ya?" kata Ren.
"Iya, suka sekali! Mereka sangat lucu dan lembut. Mereka perlu perhatian, dan bisa membuat hati tenang," kataku. Dia tersenyum.
"Wah, mirip kamu dong!" katanya.
"Kamu kan orangnya lucu, dan suka diperhatikan, ya kan?" kata Ren. Aku melihatnya dengan tatapan heran. Baru pertama kali aku melihat cowok yang begitu perhatian.
"Iya, aku tidak suka kesepian..." kataku.
"Hahaha.. ternyata benar!" Ktanya tertawa. Aku jadi sangat malu.
"Eh, bagaimana jika aku antarkan kamu pulang? Tapi sebelumnya, kita makan dulu yuk! Aku menemukan rumah makan yang asyik," katanya. Aku sedikit kaget.
"Apa? makan?" kataku. Dia mengangguk.
"Mau tidak?"
Aku berpikir. Sebenarnya aku ingin menerimanya. Tapi aku sudah janjian akan membantu Kikan untuk mendekatkannya pada Ren. Dan jika aku menerimanya, aku merasa sangat bersalah pada Kikan!
"Umm.. Maaf, hari ini tidak bisa, nanti aku ada janjian makan bersama Kikan..." kataku.
"Oh, begitu ya. Tidak apa-apa deh, lain kali saja ya!" Kata Ren. Aku mengangguk. Beberapa menit kemudian, mobil hitam mewah datang, dan itu adalah jemputan Ren. "Wah, aku sudah dijemput, sampai besok ya!" kata Ren lalu berlalu. Aku melambaikan tanganku. Rasanya sedikit aneh dan deg-degan habis bersama Ren.
Aku segera pergi ke ruang atletik. Disana, aku melihat Kikan dan Luke sedang duduk-duduk istirahat.
"Kikan!" sapaku.
"Hai Vinnie! Ayo sini!" ajaknya. Aku segera mendekati mereka.
"Hore!! Short bread!" kata Luke tiba-tiba.
"Ih, siapa yang ngasi ke kamu??" kata Kikan sambil menyiku Luke.
"Sudah, ini untuk kita bertiga kok! Aku kita makan!" kataku. Akhirnya kita pun memakan short bread itu.
"Um! enak sekali!" kata Kikan.
"Enak banget! kamu jadi cheef saja!" kata Luke.
"Hehehe... thanks!" kataku. Tiba-tiba, ketua klub memanggil Luke. Luke segera pergi ke arah ketua.
"Umm.. Vinnie, kira-kira Ren itu suka apa ya? Aku ingin memberinya hadiah pas natal," kata Kikan.
"Wah, benarkah? Baiklah, nanti aku akan tanyakan," kataku. Kikan melihat ke arahku.
"Kamu tidak malu berhadapan dengannya?" tanya Kikan.
"Malu sih... Tapi tidak terlalu. Aku kan tidak terlalu menyukainya, jadi tidak terlalu malu..." kataku gugup
.
.
"Oh, berarti kamu suka Luke, ya??!" kata Kikan sambil cekikikan. Aku tercengang.
"Ah, nggak kok!" kataku berusaha mengelak.
"Sudah ketahuan lho! Kamu selalu malu dan wajahmu selalu memerah jika berhadapan dengan Luke, ya kan! Aku mengenalmu melebihi yang kamu kira lho!" kata Kikan.
Aku memegang wajahku yang pastinya sedang merah. "Iya, aku suka Luke..." akhirnya aku mengakuinya. Kikan tersenyum.
"Bagus! Akhirnya bilang juga! Aku bantu deh, tapi kamu bantu aku dengan Ren, ya!" kata Kikan. Aku mengangguk.
Kami pun pulang ke rumah. Aku sedikit bingung. Aku suka Luke sejak lama. Tapi, sebenarnya aku sedikit keberatan membantu mendekatkan Kikan dengan Ren. Hmm mungkin karena aku tadi agak kecapekan, jadi agak malas. Tapi aku tetap kepikiran...
***
Udara dingin yang menyengat masuk ke dalam kamarku. aku pun akhirnya bangun juga. Sebenarnya aku sangat ngantuk, gara-gara kemarin malam aku tidak bisa tidur. Ugh, rasanya berat sekali! Aku menoleh ke arah jam weker. Dan, akh!! apa? sudah jam berapa ini?? Aku bisa telat sekolah!
Aku segera melompat ke kamar mandi, segera memakai baju sekedarnya, tanpa sarapan langsung berlari ke sekolah. Bel berbunyi 5 menit lagi, dan perjalanan dari rumah sampai sekolah sekitar 20 menit dengan jalan kaki! Aku pasti telat!!!
"Tiin tiin!!" tiba-tiba ada mobil membunyikan klakson. Aku kelas. Padahal aku sudah berjalan di jalur yang benar, tetapi mengapa membunyikan klakson? Padahal lagi genting begini...
Mobil yang ada di belakangku terus saja membunyikan klakson. Aku muak, dan berbalik badan. Ternyata, itu adalah sebuah mobil hitam yang sangat bagus mengkilat. Dia berhenti, dan dari jendela, si pemilik mobil yang tak lain adalah Ren mendongakan kepala.
"Vinnie! Kamu telat juga? Ayo masuk, bel masuk sebentar lagi brbunyi!!" kata Ren.
"Ah.. tapi.. tapi..." Aku ragu.
"Sudahlah! ayo masuk!" kata Ren. Aku pun menurutinya. Aku duduk di mobil bagian belakang, bersama Ren. Agak malu sih, tapi mau bagaimana lagi?
"Tenang, kita nggak akan telat kok... mungkin," kata Ren. Aku hanya tertawa kecil, tapi dalam hati sangat panik.
Sampai di sekolah, dugaan kami salah. Ya, bel sudah berbunyi 10 menit yang lalu dan kita telat!! Akhirnya, kita tidak boleh masuk ke sekolah dan berdiri di gerbang.
"Waa..!! gimana nih?? gak bisa masuk sekolah!" kataku dengan panik.
"Iya,gimana nih, maaf ya Vinnie, ternyata kita tetap telat," kata Ren.
"Eh, kok minta maaf? Kamu sangat membantuku kok," kataku.
"Eh, benarkah? Wah, ternyata Vinnie memang baik!" katanya. Aku jadi sangat malu.
"Ahhaha.. masa sih? terima kasih..." kataku.
"Iya, padahal kamu tahu kalau menolong ayahku, kamu akan telat. Tapi, kamu tetap menolong ayahku dari kecelakaan itu, dan nyawanya tertolong," katanya.
"Hah??" aku tercengang.
"Lho, nggak ingat? waktu sebulan yang lalu, aku sekeluarga pindah ke London. Aku berjalan-jalan keliling kota bersama ayahku. Tapi, saat aku pergi membeli minum, penyakit ayahku malah kambuh, dan dia jatuh di jalan. Pada saat itu juga ada motor yang menabraknya. Lalu, saat aku kembali, aku sangat kaget. Tapi, kamu yang berpakaian sekolah saat itu dengan cepat menolong ayahku dengan memanggil-manggil pertolongan, dan akhirnya ayahku segera dibawa ke rumah sakit dan tertolong," katanya.
Aku terbengong-bengong. Aku sangat ingat kejadian itu. Tapi ternyata itu adalah ayah Ren? Ya ampun...
"Aku sangat kagum padamu saat itu. Aku yang melihat ayahku ditabrak motor, hanya bisa shock dan terdiam. Aku malah berdiri kaku, dan tidak segera menolongnya. Tapi kamu, padahal tidak kenal, tapi dengan sigap dan cepat segera menolong ayahku. Benar-benar hebat," kata Ren.
"Ahaha.. tidak juga.." kataku.
"Tapi, yang membuatku lebih kaget lagi, kenapa saat itu kamu... menangis?" tanya Ren. Aku langsung tersentak. Benar juga, saat itu aku menangis. Entah kenapa, jadi ingat ayahku...
***
Waktu itu adalah hari sabtu yang cerah. Aku memegang brosur sebuah audisi menyanyi dari stasiun TV cukup terkenal dan mencari bibit penyanyi di sekolah. Ini adalah kesempatan emas agar kemampuanku teralirkan.
Tapi, sepertinya aku agak telat! Aku harus cepat, dan hanya ada waktu 10 menit sebelum audisi di mulai.
Tapi, sepertinya aku agak telat! Aku harus cepat, dan hanya ada waktu 10 menit sebelum audisi di mulai.
Saat sedang menunggu lampu hijau di zebra cross. Aku melihat seorang bapak-bapak di sampingku, dan melihat ke arahku. Dia tersenyum ke arahku. Awalnya, aku agak takut, dan sedikit menjauh. Kami diam sebentar. Tiba-tiba, dia mengatakan sesuatu.
"Bertemanlah baik-baik dengan anakku," katanya. Awalnya aku berpikir, hah? apa? anaknya? aku kan bukan teman anaknya! Pikirku. Tapi, lama-kelamaan, aku jadi teringat dengan ayahku yang sudah tiada karena mengalami kecelakaan. Ayahku memiliki senyum yang hangat, dan setiap dia tersenyum, aura suasanya akan berubah. Aku jadi sedikit nyaman di dekatnya.
Lampu hijau pun tiba, dan kami segera menyebrang jalan. Tapi, tiba-tiba ia terjatuh, dan tidak bisa bangun dari aspal. Aku kaget. Dan tiba-tiba saja ada motor bunga bodoh yang tidak bisa mengerem yang menabraknya.
Aku shock. Aku jadi teringat ayahku yang dulu kecelakaan, dan di depan mataku. Kali ini terulang lagi, dan aku sangat shock. Air mataku mengalir. Aku tidak mau bapak itu bernasib sama dengan ayahku. Aku segera menyadarkannya. Dia sedikit sadar, wajah dan tubuhnya penuh lecet. Dia tidak bisa menggerakkan tangan kanannya yang menopang tubuhnya ketika terjatuh. Pasti tangannya terkilir atau apa. Bapak itu pingsan, dan aku berteriak minta tolong. Susah sekali meminta pertolongan, apalagi pagi ini terlihat orang-orang sedang sibuk. Akhirnya polisi datang dan segera membawa bapak itu ke rumah sakit. Aku juga ikut pergi.
Aku menunggu di ruang tunggu, sambil mengusap air mataku. Aku dilarang masuk ruang pemeriksaan. Aku pasti sudah di black list dari daftar peserta audisi. Tapi, rasanya sudah tidak masalah. Yang penting bapak itu selamat, aku akan lega. Bapak itu sangat mirip dengan ayahku, sangat mirip.
Aku melihat anak laki-laki seumuranku sedang berlari ke ruang pemeriksaan. Dia memaksa-maksa masuk. Tetapi, seorang suster mencegah. Dia terlihat ngos-ngosan. Aku ingat, dia anak yang tadi ada di jalan tempat kecelakaan. Masa sih dia anak dari bapak itu, dan berlari dari tempat kecelakaan sampai ke rumah sakit ini yang jaraknya hampir 4 km? Aku mau menghampiri anak itu, tapi dia terlihat sangat sedih dan shock. Dia segera mengambil handphone-nya, dan menelpon seseorang dengan ekspresi panik. Mungkin dia kerabat bapak itu dan sekarang sedang menelpon keluarga yang lain, pikirku. Ya sudahlah, lebih baik aku segera pulang.
***
Wajahku merah dan air mataku mengalir pelan. Aku ingat kejadian itu dengan sempurna, dan aku teringat kembali dengan ayahku, maupun bapak itu.
"Sekarang, bagaimana keadaan ayahmu??" tanyaku.
"Haha, dia baik-baik saja. Dia jadi sehat, makannya banyak, dan penyakitnya sudah jarang kambuh. Tangannya yang terkilir juga sudah sembuh, dan lecet-lecet pada wajahnya pun sudah hilang," kata Ren.
"Wah, cepat sekali," kataku.
"Ya, luka akan cepat sembuh kalau dibantu dengan... apa coba?" kata Ren yang membuatku bingung.
"Hmm... apa ya, nggak tahu..." kataku.
"Karena dibantu... CINTA!" katanya sambil mendekatkan wajahnya padaku. Wajahku merah, dan wajahnya juga merah. Akhirnya kami jadi salah tingkah sendiri, dan terdiam sejenak. Aku menunduk, tidak berani lihat wajahnya. Tiba-tiba...
"Kriiiuuukk...!!" suara perut yang cukup hebat keluar dari perutku yang kelaparan. Aku jadi tambah salah tingkah. Ren menoleh ke arahku. Waa...!! Ren pasti dengar! Nggak berani lihat wajahnya!!
"Su.. suara perutmu?" tanya Ren. Aku tambah malu. Ternyata dia benar-benar mendengarnya!!
"I..iya. habis mau gimana lagi, kan sudah telat, jadi aku lupa sarapan!" kataku. Wajahku merah padam.
"Bhu... bhuahahahaa...!!" Ren tertawa keras.
"Hei!! kenapa kamu tertawa?" kataku dengan sangat malu.
"Hahaha.. maaf-maaf, wah, sampai lupa sarapan, hebat sekali ya, hahaha!" katanya. Aku pun membalikkan badan tanda sedang ngambek.
"Wah, maaf maaf, aku bercanda kok! Waduh, jangan ngambek!" katanya. Aku tidak peduli. "Hmm... baiklah, bel istirahat berbunyi 3 jam lagi, gimana kalau kita jalan-jalan sambil makan?" ajaknya.
"Eh??" kataku sambil menoleh ke arahnya.
"Wah, mudah terpancing, haha! Ayo kita jalan-jalan! Aku kan baru disini, jadi ajak aku ke tempat bagus ya!!" katanya sambil menarikku.
"Hei hei tunggu dulu!!" teriakku. Tapi sepertinya dia tidak menggubriskannya. Dia tetap saja menarikku, sampai ke alun-alun kota.
"Wah, sepertinya ini tempat bagus," kata Ren sambil mengelilingi patung manusia di tengah-tengah kolam yang berisi pancuran air. Aku melihat ke sekeliling. Para pedagang sedang sibuk menata dagangannya. Ada juga anak-anak sedang berlarian, dan ibu-ibu dengan anjing peliharaannya sedang berjalan-jalan. Udara juga terasa lebih segar, jalanan juga bersih. Tidak seperti alun-alun pada siang hari yang sedikit sumpek.
"Alun-alun di pagi hari bagus juga," kataku sambil mengikuti Ren mengelilingi patung seperti orang gila. Dia terlihat tersenyum dan tertawa.
"Eh, itu ada toko makanan, kita ke sana yuk!" kata Ren sambil menunjukkan sebuah kafe mungil dengan bunga-bunga mawar indah di depan tokonya.
"Eh, itu kan toko patisserie!" kataku.
"Kenapa? memangnya nggak boleh makan kue patissier di pagi hari?" katanya sambil menarikku dengan paksa. "Lagi pula sudah lama aku ingin makan patisserie!"
"Akh bukan begitu! Ah, sudahlah!" kataku. Maksudku adalah toko patisserie itu kuenya memang enak, tapi katanya harganya super mahal!!
Ren menggenggam tanganku dengan erat. Dia itu ternyata punya sisi seperti anak kecil juga. Aku baru tahu hal itu. Ugh! Apa-apaan aku ini!!
Kami masuk ke dalam kafe, dan disambut oleh pelayan. Para pelayan memakai baju seperti para pattisier. Kami duduk di dekat jendela yang dimasuki banyak cahaya matahari.
"Mau pesan apa?" tanya si pelayan. Aku segera membaca menu.
"Pesan croissant..." kataku.
"Aku pesan... schwarzwalder dan parfait," kata Ren.
"Hah??" kataku.
"Kenapa?" katanya. "Eh, kamu nggak pesan parfait? enak lho!" kata Ren.
"Nggak, aku pesan jus lemon saja," kataku. Ren pesan apa tadi? Schwarz.. apa? Schwarzwalder?? Itu bukannya kue penuh lumuran coklat dan cherry atau strawberry? Dan biasanya yang makan cewek-cewek atau anak-anak!
"Wah, pesanan datang! Asyik asyik!" katanya. Aku juga ikut senang, karena aku sangat lapar.
"Selamat makan!" kata Ren sambil memakan kue schwarzwaldernya. Aku memotong croissantku, dan memasukkannya ke mulut. Enak. Tapi sepertinya lebih enak kue Ren. Tanpa sadar, aku melihati Ren makan.
Ren sepertinya merasa terganggu aku perhatikan, dan akhirnya dia menoleh ke arahku. "Kamu mau? pesan saja," katanya.
"Eh, boleh?" kataku.
"Ya tentu saja, kenapa nggak?" katanya. Dengan malu-malu aku pun memanggil pelayan, dan memesan schwarzwalder.
Tak beberapa lama, kue pesananku pun datang. Kue yang besar, dan penuh coklat. Aku pun menusuknya dengan garpu, dan memakannya.
"Enak sekali!!!" kataku.
"Enak kan? Enak kan?" tanyanya.
"Iya enak!" kataku semangat. Aku makan dengan cepat, dan coklatnya belepotan di wajahku.
"Wah, hati-hati dong, kayak orang kalap aja," kata Ren sambil mengelap wajahku dengan tisu. Setelah itu dia tertawa. Blush, aku merasa dipermainkan!!
Akhirnya, kue-kue kami habis. Yang ada hanya tinggal parfait besar milik Ren.
"Aku tidak kuat memakannya, apakah aku buang saja ya?" kata Ren.
"Heeehhh??? dibuang?? nggak boleh!!!" kataku. Aku pecinta makanan manis, dan nggak rela jika ada makanan manis dibuang begitu saja.
"Kalau gitu bantu makan ya? kamu suka kan?" tanya Ren. "Ayolah!" katanya.
Awalnya aku ingin menolak, tapi ya nggak ada salahnya sih aku menerimanya. Akhirnya aku mengangguk tanda setuju.
"Sip, bagus! Nih sendok, kita makan satu berdua, haha seru!" katanya. Aku juga ikut memakannya.
"Hump, enaaaakk...!!!" kataku. Benar-benar enak, esnya lembut, terasa coklat dan vanilla. Dihiasi potongan coklat dan strawberry. Anak-anak di luar kafe sampai ngiler melihatnya.
"Iya, enak banget!" kata Ren. Kami pun sibuk makan, sambil diterpa cahaya matahari yang makin terik dari luar jendela. alunan musik klasik di kafe itu juga menenangkan. Benar-benar surga...
"Eh Vinnie, kita seperti kencan, ya!" kata Ren. Aku tersedak.
"Ah, masa sih? biasa saja," kataku. Aku mempercepat makanku. Ren hanya terdiam sambil tersenyum.
Akhirnya kami selesai makan, dan keluar dari kafe. Aku tidak bisa mencegah ketika Ren membayari bagianku, karena uangku memang tidak cukup. Hah, sungguh memalukan.
"Ada waktu sejam lagi, kita ke mana nih?" kata Ren.
"Kita mau jalan-jalan lagi?" tanyaku.
"Ya, aku belum puas!" kata Ren.
Aku segera memikirkan tempat yang bagus tapi dekat dari alun-alun kota. Hmm... otakku bekerja lebih cepat dari biasanya. Tempat yang bagus.. tempat yang bagus.. ah! Di sana saja!!
"Eh, aku mau menunjukkanmu tempat bagus!" kataku lalu menarik paksa Ren. Sekarang giliranku yang melakukan itu.
Ternyata tempatnya cukup jauh juga. Kita sampai ngos-ngosan. Tapi, kalau melihat pemandangannya, lelah pasti hilang. Ya, aku baru ingat bahwa di samping sebuah rumah besar bergaya Eropa yang sudah tidak berpenghuni itu sebenarnya ada taman bunga tulip yang sangat indah. Tak ada yang berani ke sini karena gosipnya sering banyak hantu. Tapi aku tidak peduli. Habis tempat ini indah sih!
"Wah, indahnya!" kata Ren.
"Iya kan? Indah kan?" kataku.
"Iya, menenangkan," kata Ren. Ya, melihat hamparan bunga berwarna ungu muda disertai pohon-pohon hijau dan langit yang biru juga angin sepoi-sepoi tentu saja sangat menyejukkan jiwa. Aku dan Ren pun duduk di pinggir taman. Kami terdiam, seakan sibuk dengan pemikiran masing-masing. Lagipula terdiam seperti ini rasanya menyenangkan sekali. Masalah serasa hilang dari kepala ini.
Aku memejamkan mata sebentar, sampai Ren menggumam sesuatu.
"Vinnie..."
"Ya?"
"Aku suka kamu. Jadi pacarku ya?" kata Ren.
Aku segera membuka mataku. Rasanya kaget, lebih kaget dari kaget kaget yang pernah kurasakan seumur hidupku. Apa?? Ren bilang apa tadi? Suka aku? Ingin jadi pacarku??
***
Kikan duduk di bangku kelasnya. Di depan, guru sedang menjelaskan, tapi ia sama sekali tidak mendengar. Dia sesekali menggosok-gosokkan tangannya, memainkan pensil, dan berusaha melihat ke arah jendela. Sepertinya dia sekarang sedang agak gelisah. Ya, dia gelisah, karena Vinnie dan Ren dengan kompak tidak masuk hari ini tanpa sebab. Ia gelisah terjadi sesuatu yang buruk baginya.
"Kik, penyakit spinocerebellar degeneration itu apa sih?" tanya Luke. Kikan tetap diam sambil melihat ke jendela tanpa menghiraukan Luke.
"Eh, jawab dong!!"kata Luke memaksa.
"Ikh apaan sih! Nggak tau orang lagi khawatir ya??" kata Kikan kesal.
"Khawatir? Khawatir apa?" tanya Luke heran.
Kikan terdiam sejenak. "Vinnie sama Ren," katanya lagi.
"Oh... Apa yang perlu dikhawatirkan?"
"Kamu ini bodoh ya? Tentu saja khawatir! Mereka tidak masuk secara bersamaan, bagaimana kalau ada apa-apa??" kata Kikan.
Luke terdiam sejenak.
"Tenang saja, mungkin kalau mereka benar-benar janjian tidak masuk, mereka pasti pergi ke sebuah rumah makan indah, kemudian makan es krim raksasa dihiasi coklat dan cherry dan memakannya satu berdua, lalu pergi ke taman bunga yang indah. Di hadapan hamparan bunga itu, Ren pun mengatakan I LOVE U ke Vinnie dan menciumnya..." kata Luke mengandai-ngandai.
"HENTIKAN...!! ITU TIDAK MUNGKIN TERJADI...!!!" Teriak Kikan. Satu telas sunyi. Semua menoleh ke arah Kikan.
"Ehm, Miss. Louvinne, apakah kamu mau menunggu di luar hingga pelajaran usai?" kata Mr. Fedrick, guru biologi.
"Ti.. tidak, aku akan belajar di kelas..." kata Kikan.
"Jangan ribut dan dengarkan pelajaran!!" kata Mr. Fedrick dengan galak. Kikan pun terdiam. Tapi, dalam pikirannya, dia masih memikirkan apa yang dikatakan Luke. Mungkinkah Ren bilang "I Love u" ke Vinnie??
***
Aku tercengang setelah mengatakan apa yang dikatakan Ren. Dia bilang apa tadi??
"I love u, Vinnie," kata Ren. "Aku menyukaimu ketika kau menolong ayahku. Kamu tampak sangat manis dan cantik pada saat itu, juga memiliki hati yang baik. Kamu benar-benar indah," kata Ren." Aku hanya terdiam.
"Kau tahu, ketika pindah kesini, aku sebenarnya tidak mau bersekolah di England High School, karena sangat jauh dari game centre. tapi, karena kamu, akhirnya aku mau bersekolah di sini," kata Ren. "Aku menyukaimu dari awal, Vinnie," kata Ren.
"M...ma...maaf..." kataku. Ren tercengang.
"Maaf... aku, aku menyukai Luke..." kataku. rasanya tidak kuat mengatakan kata itu, tapi aku bersyukur aku berhasil mengatakannya. Ya, aku menyukai Luke. Dan aku sudah berjanji pada Kikan, kalau aku akan membantunya untuk mendekati Ren. Mungkin, jawaban ini adalah jawaban yang terbaik. tapi entah kenapa, rasanya sangat sakit. Air mataku akhirnya mengalir, sangat deras.
"Be... begitu ya, maafkan aku Vinnie," kata Ren. Dia tampak sangat shock. Mungkin ini pertama kalinya dia ditolak cewek.
"Kita jadi teman saja..." kataku lagi.
"Baiklah, tapi aku tidak akan melupakanmu," kata Ren lagi. Dia mengusapkan air mataku, tapi aku menepis tangannya. Kami pun terdiam sejenak. Angin sepoi-sepoi menerpaku, hingga air mataku kering. Aku tidak berani menoleh ke arahnya, dan dia pun sepertinya tidak menoleh ke arahku. Rasanya aku melakukan hal yang salah. tapi, inilah yang terbaik.
"Maaf sudah merusak suasana..." kata Ren. Aku tidak bergeming. Kita pun terdian cukup lama.
"Maaf sudah merusak suasana..." kata Ren. Aku tidak bergeming. Kita pun terdian cukup lama.
"Sudah jam segini, sebentar lagi bel istirahat siang berbunyi. Sebaiknya kita kembali ke sekolah," kata Ren sambil berdiri. Aku pun ikut berdiri, dan berjalan ke arah sekolah. Selama perjalanan, kami tidak ada bicara sedikitpun. Kami seperti sibuk dalam pikiran masing-masing, dan tidak memedulikan lingkungan sekitar. Setelah hampir 20 menit, kami pun sampai di sekolah. Aku segera pergi ke kelas, dan Ren pergi entah ke mana.
"Vinnie?? kamu kemana dari tadi?? Kok nggak ikut pelajaran pertama?" kata Kikan kaget melihat aku tiba-tiba ada di kelas. Dia segera menghampiriku.
"Tadi aku terlambat dan jalan-jalan sebentar," kataku. Dia terdiam sejenak.
"Dengan Ren?" tanyanya. Aku sedikit bingung menjawabnya.Tapi akhirnya aku mengangguk.
"Vin, kamu masih ingat janjimu kan, janjimu mendekatkan aku dengan Ren," kata Kikan. Aku hanya terdiam.
"Kenapa hanya diam? bukankah kamu sudah janji? Lagipula kamu suka Luke, kan?" kata Kikan lagi.
"Memangnya kamu menyukai mereka berdua? Keterlaluan!"
"Memangnya kamu menyukai mereka berdua? Keterlaluan!"
Benar juga apa yang dikatakan Kikan. Aku suka Luke. Aku hanya menyukai Ren sebagai teman. Jika aku menerima cinta Ren, itu sama saja dengan menyakitinya karena aku tidak mencintainya. Aku suka Luke. Aku hanya suka Luke.
"Aku akan menyatakan perasaanku pada Luke..." kataku.
"Apa?" tanya Kikan.
"Aku akan menyatakan perasaanku pada Luke," kataku lagi sambil berdiri.
"Se..serius??"
"Ya, benar. Sekarang," kataku lalu meninggalkan kelas, dan mencari Luke. Kikan terbengong-bengong sendiri di kelas. Tapi, dia kemuadian seperti berpikir keras, dan menimbang-nimbang, dan akhirnya ikut berlari keluar kelas mencari seseorang.
***
Aku mencari Luke ke mana-mana, tapi tidak ketemu. Di kantin, klub atletik, lapangan basket, dan lainnya, tapi aku tidak menemukannya. Sampai akhirnya aku ke kandang kelinci, dan aku melihat Luke sedang menggendong salah satu kelinci.
"Luke..." kataku. Luke agak sedikit kaget, dan menoleh ke arahku.
"A..ah, kamu melihatnya..." katanya sambil memasukkan kelinci itu ke kandangnya.
"Luke..." kataku lagi.
"...Ya...?" balasnya.
"Boleh aku duduk di sampingmu?" kataku.
"Eh, boleh boleh," katanya sambil menggeser sedikit duduknya.
Aku segera duduk di sampingnya. Kami diam sejenak. Dalam pikiranku, aku sudah membulatkan tekad untuk menyatakan perasaanku. Ini demi diriku sendiri, karena tidak bagus jika selalu memendam perasaan. Membuat kita menjadi cemas, dan tidak tenang. Dan ini juga demi Kikan. Tapi, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku juga sedikit merasa bersalah. Mungkin merasa bersalah pada Ren, tapi ada yang lain. Rasa bersalah yang sangat susah untuk dihilangkan dan dimengerti. Rasa bersalah pada diri sendiri.
Tapi tekadku sudah bulat. Aku tidak akan menggubriskan perasaan aneh yang muncul. Itu akan menghancurkanku saja. Pokoknya aku akan menyatakan perasaanku-pada Luke-sekarang.
"Luke,"
"Apa?"
"Aku..."
Aduh kenapa ini?? Tiba-tiba saja sifatku yang menyebalkan ini datang. Padahal tadi aku sudah berhasil mencegahnya, tapi kenapa sekarang muncul lagi?? Aduh, susah nih punya sifat pemalu!
Jantungku berdetak sangat kencang. Keringat dingin mulai mengalir dan membasahi keningku. Tanganku pun bergetar, dan aku memejamkan mataku. Wajahku pasti sudah merah padam. Tapi, aku harus menyelesaikan kalimatku.
"Vinnie? Kamu tidak apa-apa?" tanya Luke. Aku mengangkat kepalaku, dan menoleh padanya.
"Luke, aku suka kamu."
***
Kikan memelankan langkahnya. Dia sudah sangat lelah berlari. Keringatnya bercucuran deras, tapi ia tetap tidak menyerah. Ia mencari-cari seseorang. Akhirnya, di ruang atletik, dia menemukan orang yang ia cari. Dia sedang duduk di depan pintu, sambil meminum air mineral. Dia terlihat lesu.
"Ren!!" teriak Kikan. Ren pun menoleh ke arah Kikan.
"Kikan? Ada apa?" tanya Ren.
"Re.. ren, aku ingin mengatakan sesuatu!" Kata Kikan. Ren sedikit kaget.
"Ah, duduk dulu, tenangkan dirimu. Setelah itu baru bicara," kata Ren sambil mempersilakan Kikan duduk. Kikan pun menurut, dan duduk di samping Ren.
Kikan diam sejenak. Dia sedang sibuk dalam pikirannya. Entah sedang berpikir ia akan mengatakan apa ke Ren, atau yang lain.
"Nah, kalau sudah tenang, bicaralah. Ada perlu apa denganku?" tanya Ren. Kikan menundukkan kepala.
"Kikan?"
"Ren, aku ingin mengatakan sesuatu. Sebenarnya, dari dulu, dari dulu, aku selalu..."
Kikan menghentikan kalimatnya. Ren yang melihat ke arahnya dengan serius dan penasaran membuatnya gugup.
"Selalu apa Kik?" tanya Ren.
"Ren! Kamu tahu?? Aku menyukai kamu dari dulu!! Jadikanlah aku pacarmu..!" teriak Kikan sekeras-kerasnya. Wajahnya merah padam. tangannya bergetar, dan matanya terpejam. Ia masih takut melihat wajah Ren.
Tidak ada reaksi apapun.
Tiba-tiba, Ren memegang pundak Kikan. Ia mendekati wajah Kikan, dan menghapus air matanya. Kikan kaget, dan menoleh ke arah Ren. Ia melihat Ren sedang tersenyum ke arahnya. Senyum yang lembut dan hangat. Kikan menjadi semakin gugup, dan wajahnya menjadi sangat merah padam. Ren pun membuka mulutnya, untuk mengatakan sesuatu.
"Maaf."
***
"Maaf," kata Luke.
Aku tercengang. Tadi Luke bilang apa? sudah jelas, Luke menolakku. Padahal, aku sudah mempertaruhkan nyawaku untuk mengatakan kalimat tadi. Aku shock. Hatiku sakit. Pikiranku kosong. Aku ingin lenyap.
"Vinnie? kamu baik-baik saja? tenanglah!" kata Luke, yang sepertinya panik melihat keadaanku, yang pastinya sangat memalukan. Aku tidak berani melihat wajahnya. Aku ingin menghilang dari hadapannya.
"Minumlah, tenangkan dirimu," kata Luke sambil memberiku air. Aku tidak mau mengambilnya. Hanya satu pikiranku. Sakit hati.
Luke membenarkan duduknya. Dia menaruh air itu di sampingku. Dia diam. Tak ada suara, tak ada gerakan. Dia hanya diam.
Tak lama kemudian, dia pun angkat bicara.
"Vinnie, aku tadi mendengar cerita Ren. Mendengar curhatnya. Katanya, tadi dia pergi ke toko patiserrie bersamamu. Kalian makan Schwarzwalder, dan parfait. Katanya, kamu terlihat sangat senang, dan membuat Ren menjadi ikut senang. Kau tahu tidak, sebenarnya Ren tidak suka Schwarzwalder. Tapi, dia tahu kau suka makan itu karena dia membaca buku primbon milik ketua kelas. Di sana, kau menulis suka makan makanan manis. Makanya, dia memesan itu, supaya kamu senang. Dia suka sekali senyummu. Menurutnya, senyuman matahari yang ada di atas kita ini kalah dengan senyummu," kata Luke.
"Dan, katanya kau mengajaknya ke sebuah tempat yang indah, dengan dipenuhi bunga tulip yang sedang kuncup. Kau sangat suka tempat itu kan? Makanya dia menyatakan perasaannya di tempat yang sangat kau sukai itu. Tapi, kau malah menolaknya dan mengatakan suka padaku. Kupikir itu adalah hal bodoh," katanya sambil tertawa kecil. Aku menunduk dan terdiam.
"Cinta itu aneh. Kadang kau merasa suka padanya, dan dia malah tidak suka padamu, dan malah suka pada orang lain. Ah, aku juga tidak mengerti apa itu cinta. Tapi yang jelas, cinta itu membuat seseorang menjadi merasa nyaman. Beban pikiran menjadi sedikit ringan, dan memberikan semangat untuk hidup. Siapapun yang dekat denganmu, dan kau merasa senang di dekatnya, itulah cinta. Cinta pada orang tua, cinta pada sahabat, dan cinta pada seseorang yang spesial. Tapi, semua cinta itu berbeda. Cinta pada seseorang yang spesial itu berbeda, dan sangat susah untuk ditebak. Makanya kita harus hati-hati memilihnya. Dan kurasa, aku bukanlah orangnya untukmu," kata Luke dengan panjang Lebar. Tidak seperti Luke saja.
"Dan kau tahu, aku sangat-sangat yakin, aku ini dilahirkan untuk menjadi orang yang spesial bagi Kikan," kata Luke. Aku sangat tercengang.
"Kau tahu, aku menyukai Kikan. Dia itu cewek yang kuat, walau dalamnya dia sama saja dengan cewek lain. Rapuh. Dia sering bertengkar dengan seseorang, dan terlihat sangat kuat. Dia menutupi kelemahannya dengan amarahnya. Tapi, setiap malam, aku tahu, dia sering menangis di kamarnya. Aku pernah menginap di rumahnya, dan aku melihat semua itu, dengan mata kepalaku sendiri. Makanya, aku punya tekad, untuk melindunginya. Supaya ia bisa terus berdiri, dan menjadi kuat," kata Luke. Sebagai sahabatnya, aku baru tahu kalau Kikan memiliki sifat seperti itu. Yang aku tahu, dia itu sangat kuat, dan aku iri padanya.
"Aku dan Kikan kagum lho, denganmu. Jika kamu sedih dan marah, kamu dapat mengalirkan air matamu, dan membuat hatimu jadi tenang. Kamu dapat sembuh dengan cepat. Kami sangat iri denganmu lho, kau hebat!" katanya sambil tertawa.
"A... apa-apaan itu," kataku. Dia menoleh ke arahku.
"Benar lho, kau ini hebat. Aku yakin, kamu pasti bisa mencari seseorang yang spesial bagimu. Seseorang yang selalu melindungimu, dan dapat menyembuhkan luka hatimu," kata Luke.
Aku sedih mendengarnya. Sudahlah, aku tidak punya harapan lagi di hati Luke. Sumuanya berakhir. Aku pun menangis lagi. sekencang-kencangnya. Luke tidak mencegah tangisku. Dia membiarkan aku menangis. Air mataku mengalir dengan sangat deras. Tapi, di sisi lain, aku merasa senang. Hari ini, tirai baru untuk hidup baru telah dibuka. Sudah waktunya aku harus bilang dan jujur pada diriku sendiri, ini tangis bahagia.
***
Aku kembali ke kelas. Tadi, aku sudah pergi ke toilet untuk mencuci wajahku. Mataku agak bengkak. Aku jadi malu bertemu dengan orang lain.
Aku melihat bangku Kikan kosong. Ke mana dia ya? Aku bingung. Tapi sudahlah. Nanti juga pasti balik lagi, pikirku.
Hari ini, berhasil aku jalani dengan baik. Aku berhasil bersikap biasa saja tanpa ketegangan ketika berhadapan dengan Ren. Aku juga berhasil tersenyum di depan Luke. Hari yang menegangkan. Tapi, cukup menyenangkan dan memberiku pelajaran. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Kikan. Kemana dia ya?
***
Natal sebentar lagi. Dua hari lagi. Nggak terasa sudah secepat itu. Tapi, aku belum memikirkan akan memberikan hadiah untuk siapa, dan apa. AKu merebahkan tubuhku di kasur. Nyaman sekali. Aku memejamkan mataku. Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu rumah. Aku segera bangun, dan pergi ke arah pintu.
Aku segera membuka pintu, dan Kikan? Ya, di balik pintu itu ternyata Kikan. Aku segera mempersilakan dia masuk. Kikan pun masuk, dan duduk di sofa.
"Ada apa Kik?" tanyaku.
"Vin, tadi kau berhasil menyatakan perasaanmu pada Luke? Apa yang ia katakan?" tanya Kikan.
"Dia menolakku," kataku ringan. Kikan kaget.
"Apa?" katanya heran.
"Iya. Tapi sudahlah. Aku jadi sedikit menyadari sesuatu," kataku. Kikan melihat ke arahku. Lama-lama, air matanya mengalir.
"Kikan? kau kenapa?" tanyaku sedikit panik. Dia terus saja menangis.
"Aku ditolak Ren juga...!! Aku bingung! Aku ditolak olehnya juga...!! Uhuuhuuuu...!" katanya terus menangis. Aku kaget.
"Kau menyatakan perasaanmu pada Ren?" tanyaku. Dia mengangguk.
"Sudahlah Kik, lupakan saja Ren. Mungkin dia bukanlah orangnya. Pasti orang lain," kataku menenagkan sahabatku ini.
"Tidak bisa!! Aku tidak bisa!! Hatiku terluka parah! Dan apalagi ketika dia bilang..." Kikan menghentikan kalimatnya.
"Bilang apa?" tanyaku.
"Dia bilang dia suka kamu...!!!" katanya sambil berlari keluar dari rumahku. Aku tidak berhasil mengejarnya. Dia berlari kencang. Entah kemana perginya. Hatiku sesak. Sungguh pilihan yang sulit.
Aku masuk ke kamar. Aku bingung. Aku stress. Apa yang harus aku lakukan? Apa? Apa?? Aku melihat poster yang terpasang di kamarku. The Blue Elf. Lagunya bagus. Aku sangat suka, dan sering menyanyikannya. Yah, aku memang suka bernyanyi. Tiba-tiba, aku mendapat ide bagus! Ini ide yang sangat bagus! Aku segera mengambil kertas dan pulpen, lalu menulis sesuatu.
***
"Hiks...Hiks.." suara tangisan dari seorang gadis yang sangat sedih itu berasal dari pinggiran danau yang sangat sepi. Di bawah cahaya bulan yang redup, dia menangis sepuasnya. Dan dari belakang orang yang sedang menangis itu, muncul seseorang berambut coklat muda. Dia membawakan dua gelas kopi panas, dan duduk di samping orang yang sedang menangis tadi.
"Minumlah, dingin sekali di sini," kata orang itu.
"Mau apa kau ke sini?" kata si gadis sambil menoleh ke orang yang berada di sampingnya.
"Ibumu mencarimu. Kamu ini bodoh ya, malam-malam yang dingin begini keluar rumah, dan malah duduk menangis di pinggir danau. Seperti orang bodoh!"
"Biar saja! Terserahku!!" kata si gadis marah.
"Minumlah, dan tenangkan dirimu," kata orang itu, dan memberikan si gadis kopi. Si gadis menerimanya, dan meminumnya. Manis dan hangat.
"Bagus juga pemandangannya. Untung aku datang ke sini mencarimu," kata orang itu.
"Diamlah! Suaramu bikin suasana jadi jelek saja!" kata si gadis. Kemudian, mereka pun terdiam, sambil memandang bulan.
***
Besok natal, besok natal!! Suasana sekolah menjadi sangat sibuk. Para murid sibuk medekorasi aula yang akan dijadikan tempat pesta natal. Pohon cemara besar yang ada di halaman juga sedang dihias. Kami para grup vokal sedang latihan untuk tampil besok. Pokoknya kami akan tampilkan yang terbaik!
Dari tadi, aku tidak melihat Kikan. Aku sangat berharap, besok dia akan datang, karena aku telah mempersiapkan sesuatu. Kemarin aku bergadang membuatnya. Dan dia harus menerima hadiah ini besok.
"Vinnie!" tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku menoleh.
"Ren? Ada apa?"
"Kamu mau tampil besok ya? Wah, semoga sukses! Harus bagus ya!!" katanya.
"Tentu saja! Akan kutampilkan yag terbaik!" kataku. Dia tersenyum kepadaku. Blush...
Apa ini?? Perasaan apa ini?? Ada apa denganku?? Kenapa jantungku berdetak kencang tidak mau berhenti ketika melihat senyum Ren? Apa jangan-jangan...
Tiba-tiba Luke datang, dan melihat kami. Dia tersenyum kepadaku, dan mengedipkan sebelah matanya. Aku heran dengan sikapnya.
"Hai Ren!! Ayo ke klub atletik sebentar, antarkan aku!!" kata Luke sambil menarik Ren.
"Ah, baiklah. Sampai nanti Vinnie!" kata Ren dan berlalu. Aku bengong. Perasaan apa tadi? Ada apa denganku?? Masa ini yang namanya, CINTA???
***
Natal tiba. Di mana-mana terdengar lagu jingle bell. Aku berjalan riang ke sekolahku, untuk menghadiri pesta natal. Hari ini, aku memakai baju terbaikku. Sebuah dress berwarna kuning muda selutut, jaket putih, dan sepatu berwarna putih. Rambutku kini aku hias agak sedikit dewasa. Aku mengurainya, dan memakai bando.
Suasana pesta cukup meriah. Aku sangat senang. Aku melihat Ren dan Luke, dan segera menghampirinya.
"Hai!" kataku. Mereka melihat ke arahku.
"Wow, Vinnie, kau terlihat beda!" kata Luke.
"Ah, benarkah? Thanks! Kalian juga hebat!"kataku.
"Iya benar, kau terlihat lebih..." kata Ren.
"Ya? Lebih apa?" kataku. Luke melihat ke arah Ren sambil tersenyum.
"Lebih..."
Aku heran, dan Luke menyiku Ren.
"Ah, lebih, lebih manis..." katanya sambil menunduk. Wajahnya merah, dan terlihat jelas. Melihatnya, wajahku malah ikut merah.
"Be.. benarkah?? Terima kasih," kataku. "Ah, Kikan mana?" tanyaku.
"Kikan? dia belum datang," kata Luke. Aku jadi sedikit resah. Bagaimana jika dia tidak datang? Hancur semua rencanaku. Melihat aku yang resah, Ren menepuk bahuku.
"Ada apa?" katanya.
"A.. ah, tidak..." kataku. Tiba-tiba, pembawa acara sudah berdiri di atas panggung, dan acara akan di mulai. Tapi, Kikan belum juga muncul.
"Vinnie! Ayo kita harus siap-siap!" kata Clara, temanku di klub vokal. Aku segera berjalan ke ruang kostum.
Suasana benar-benar meriah. Sebelum kami tampil, pentas drama, tari, dan lainnya ditampilkan dulu. Kami bersorak-sorak senang. Benar-benar seru. Tapi, aku tidak tenang. Aku tidak menemukan Kikan dimanapun.
"Nah, sekarang, mari kita saksikan, sebuah lagu dari grup vokal, yaitu sebuah lagu indah, Fullmoon In Christmas!" kata pembawa acara. Kami pun segera naik ke panggung.
Kami memulai untuk bernyanyi. Lumayan bagus, usaha kami selama latihan tidak sia-sia. Semua mata tertuju ke arah panggung. Walau begitu, hatiku masih saja tidak tenang. Kikan belum menampakan dirinya. Mungkinkah dia tidak datang?
Saat kami akan selesai bernyanyi, aku melihat seorang gadis, berambut coklat diurai dengan pita hijau muda, juga dengan dress hijau muda yang indah. Aku langsung mengenalinya. Kikan! Dengan penampilan yang sangat feminim!
Aku ingin menghampirinya. Tapi, aku segera dipanggil untuk beristirahat. Aku pun menurutinya. Lagipula, aku punya kejutan untuknya.
Aku sudah minta ijin pada pembawa acara, agar memberiku waktu untuk menampilkan sesuatu. Aku ingin menyanyikan lagu pendek. Tanda sayangku selama ini, untuk seseorang.
Namaku disebut oleh pembawa acara. Hampir semua orang kaget. Ini di luar rencana mereka. Benar. Ini kejutan, untuk semua. Aku segera naik ke atas panggung.
"Aku ingin menyanyikan sebuah lagu, judulnya Bird Song For My Sweet," kataku. AKu segera memainkan keyboard, dan mulai bernyanyi.
"I'm went into the dark street and im cried,
I'm went into the dark street, and im screamed,
You appeared in front of me, and you're smiling,
You appeared in front of me, and you're laughing!
You gave me the passion in this life,
You made me strong through this life,
You always cheer me ig I crying,
And you always treat me, when I was, hurt...
You're my best friend,
always help me,
You're mu best friend,
always make me happy!
Don't cry...
my strong friend
Don't cry...
my cheerful friend
Hold my hand, look my face
I there for you, 'cause you're there for me
Oh my friend!"
Aku bernyanyi sebaik-baiknya. Semua penonton bersorak-sorak, dan melemparkan kelopak bunga mawar ke arahku. Aku sangat senang. Aku memainkan keyboardku, dan berhenti. Aku segera membisikkan sesuatu di depan mikrofon, "for my best friend, Kikan Louvinne," kataku. Semua tercengang. Luke tercengang. Ren tercengang. Apalagi Kikan. Aku segera menghampiri Kikan, dan mengajaknya naik ke panggung. Dia tampak panik.
"I love you, my friend, you're more better then jewel," kataku. Kikan melihatku. Dia melihat mataku. Mata tanpa kebohongan. Dia segera menangis, dan memelukku. Aku juga ikut menangis. "Maaf," aku bisa mendengar bisikannya di antara isak tangisnya. Setelah itu, kami pun turun panggung, dan semua penonton bersorak-sorak. Pembawa acara mengacungkan jempolnya ke arahku, dan aku membalasnya dengan kedipan mata.
Di bawah panggung, Luke dan Ren sudah menunggu. Mereka bergantian memukul kepalaku dengan bangga. Aku hanya tertawa. Aku melihat Kikan, dan kembali memeluknya. Tiba-tiba, Ren dan Luk ikut memeluk kami. Kami berpelukkan berempat, sangat mirip teletubbies. Benar-benar bodoh. Kami pun tertawa berempat.
Hari semakin larut. Suasana tambah ramai. Aku padahal hanya ingin ke toilet, eh malah terpisah dari mereka. Sudahlah biarkan saja. Aku pergi ke balkon lantai atas. Di balkon, sangat sepi. Aku memandang bintang-bintang. Sangat damai.
Tiba-tiba, ada langkah kaki di belakangku. Aku menoleh, ternyata Ren. Dia segera berjalan ke sampingku.
"Indah," kata pertamanya.
"Indah," kata pertamanya.
"Ah, ya pemandangannya indah," kataku.
"Bukan, tapi kamu yang indah," katanya.
"Hah?" Aku kaget. Kami terdiam.
"Maaf," kata kami bersamaan. Aku kaget.
"Ah, kamu saja duluan," kataku.
"Tidak, kau saja," katanya. Kami terdiam lagi.
"Ren..." kataku.
"Ya?" katanya.
"Maafkan aku. Saat itu aku sangat bodoh karena tidak menyadari perasaanku sendiri. Aku minta maaf," kataku.
"Hah?" katanya.
"Begini, sebenarnya aku..." suaraku tertahan.
"Aku menunggu..." katanya. Aku memejamkan mata.
"REN...!!! AKU SUKA PADAMU...!!!" kataku sambil berteriak dari atas balkon. Semua orang yang ada di bawah medoleh ke atas. Aku jadi kaget dengan tingkah lakuku sendiri. Tiba-tiba, Ren menarik badanku dan, dia menciumku!!!
Manis, dan lembut.
Dia melepas ciumannya. "Kau terlalu keras! Dasar!" katanya sambil mengetuk kepalaku. Aku bisa melihat wajahnya merah. Wajahku juga merah. Jantungku berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Tanganku bergetar. Aku mau pingsan.
"Eh, kamu baik-baik saja?" tanya Ren. Aku melihatnya, dan memeluk badannya.
"Tidak apa, aku sangat senang! Aku sangat senang!" kataku. Aku merasa tenang. Sama seperti rumus cinta Luke, seperti inilah yang aku rasakan. Tapi, Ren segera melepas pelukanku, dan mengeluarkan sesuatu.
"Untukmu," katanya. Aku mengambilnya, dan membukanya. Dan isinya adalah... kue schwarzwalder!
"Kau bodoh," kataku sambil tertawa geli.
"Jadi bodoh pun tak masalah. Yang penting bisa membuatmu tertawa," katanya sambil tersenyum. "Ayo kita makan!" katanya lagi.
Kita pun memakan kue itu berdua. Walau tidak semuanya kita makan sih, sebagian kita lemparkan ke satu sama lain! Wajah Ren jadi sangat aneh dengan coklat belepotan! Tuxedo mahalnya pun jadi kotor dan terlihat murahan. Hahaha! Tapi, dress kesayanganku juga jadi tak karuan bentuknya karena belepotan kue. Kami tertawa, menertawai penampilan masing-masing. Hari ini, benar-benar hari yang hebat! Aku berhasil mengungkapkan isi hatiku. Aku tidak akan malu-malu lagi seperti dulu. Aku akan jadi diriku sendiri, menjadi diri sendiri yang berkilau.
***
"Kriiiing....!!!" jam weker di samping kasurku berbunyi keras. Aku segera bangun, dan melihat ke arah jendela. Februari. Musim semi. Aku bisa merasakan udara hangat masuk ke kamarku. Aku melihat ke arah jam dan... APA?? JAM BERAPA INI??? SUDAH SIANG!!! Aku segera melompat dari kasur dan menuju kamar mandi. Berlari kencang ke arah sekolah, dengan panik.
"Teeet!!" tiba-tiba ada bunyi klakson di belakangku. Aku menoleh, dan Ren!
"Vinnie! Telat juga?" katanya. "Ayo masuklah!" katanya. Kejadian ini mirip seperti dulu. Ketika mobil dibuka, tiba-tiba,
"Kalau mau jalan-jalan, ajak kami juga!!" kata dua orang lagi dari dalam mobil, yaitu Luke dan Kikan.
"Kalian??" kataku shock.
"Iya, kita mau jalan-jalan berempat. Ikut kan?" kata Ren.
"Eeh?? Lalu gimana dengan sekolah?" kataku bingung. "Kita bolos?"
"Dasar, selalu tidak dengar pengumuman. Kan Mr. Fedrick si guru biologi gila itu sekarang sedang izin, dan kita ada waktu 3 jam untuk jalan-jalan," kata Kikan.
"Benarkah??" kataku.
"Ya, ayo ajak kami ke Patisserie!! Aku ingin makan schwarzwalder!!" teriak Luke.
"Hey, jangan berteriak di telingaku!" kata Kikan galak. Aku tertawa. Aku segera masuk ke mobil, dan kita pun melaju pergi. Benar-benar menyenangkan. Inilah akhirnya. Kami menjadi sahabat yang sangat erat. Dan, menjadi kekasih yang sangat hangat.
"Don't cry... my strong friend, Don't cry...my cheerful friend, Hold my hand, look my face, I there for you, 'cause you're there for me Oh my friend!" Senandungku dalam hati.