
Kelas 3. Ujian Nasional. Kelas 3. Ujian Nasional. Yap, kini aku udah kelas 3, dan harus ujian Nasional!!! Duh, gimana nih? gak ada belajar lagi! Nah, karena banyak yang bernasib sama kayak aku, nggak pernah belajar dan gak siapa ujian, makanya hampir setiap sebulan sekali selalu diadakan try out. Yah, walaupun gitu, tetep menegangkan juga kan? Kayak gitu pikiranku awalnya.
Tapi, gara-gara setan Ari yang kebetulan duduk di depanku, semuanya berubah. gila banget, gara-gara dia, ujian jadi nggak menegangkan!! Bukan, bukan maksudnya ujian jadi rileks. Tapi jadi tambah gak niat liat buku!
Yap, biar selalu abadi, aku akan mengabadikannya dalam bentuk posting. Moga kalian suka ya! (gak suka juga gak apa-apa sih. tapi biar aku gak rugi posting, makanya suka ya :))
Try out pertama.
Dei : "Duh, soal ini susah banget."
Ari : "Duh kasian, aku aja udah selesai!"
Dei : "Masa?"
Ari : "Iyalah! Aku kan pake otaknya Einstein!"
Dei : "Ih, kamu pasti maling otaknya Einstein yang ada di museum tuh ya!"
Ari : "Iya. Aku maling di museum Bali. Aku tukar pake otakku."
Dei : "Hah?? Pasti otakmu diserbu lalat disana ya?! Whakaha..."
Ari : "Nggak. Otakku diserbu ulat dan cacing."
Dei : "?!" (ketawa gak peduli ada guru ngawas.)
Beberapa menit kemudian
Ari : "Diah diah! nomer 20 jawabannya apa?"
Diah : (ket : duduk di belakangku) "bhwueekk :P!!"
Ari : "Beh Diah gitu dah kamu sama temen, tega kali liat temen gak lulus. Kalo gak lulus aku bisa dimasukin lagi ke perut ibuku Diah!!"
Diah : "Bodo amat. Sana masuk lagi ke perut Ibumu!"
Ari : "Whaaa... Diah.. Ayolah Diah...!!" (Merengek-rengek tidak jelas. Coba deh liat aslinya. Sayang waktu itu aku gak bawa kamera.)
Dei : "Masa kelakuannya Einstein kayak gitu??"
Ari : "Yee.. waktu kecil Einstein kayak gini tau! Udah nakal, bodo lagi! Itulah Einstein!"
Dei : "Itu sih kamu!"
Detik-detik bel
Ari : "Ei, kamu mirik kali sama Ibumu ya!"
Dei : (merasakan hawa mau ngejek) "Enak aja."
Ari : " Ih, nggak suka dibilang mirip sama orang tua, dasar anak durhaka!"
Dei : "??!"
Try out kedua
Ari : "Dei, dah bayar???!" (tampang panik)
Dei : "Bayar apa??" (tampang panik)
Ari : "Apa adeeen" (ket : apa aden=apa ya?)
Dei : "Jangan ngomong kalo gak ada perlu!"
Ari : (nggak peduli dan ganggu orang lain.)
Ketika ujian
Ari : "Dei."
Dei : "Ah?" (nggak menoleh soalnya lagi konsentrasi memusat)
Ari : "DEI!!"
Dei : "Apa sih!!!"
Ari : "Apa adeen!! whkahahahlkahaaka!! gampang banget kamu ditipu ya!"
Dei : "Apa sih, gak penting kali kamu ni!"
Ari : "Penting tau! Kayak kemarin, aku bilang gini ke bapakku, "pak, udah bayar gini pak?" bapakku langsung dengan paniknya nanya, "bayar apa??" aku langsung bilang "ape adeeen!" tau nggak, aku langsung dikejar sama bapakku sampe 1 kompleks." (mencurahkan isi hati)
Dei : "Ah? dasar bodoh." (konsentrasi ke soal udah buyar)
Ari : "Cung."
Dei : (nggak menghiraukan.)
Ari : "Dei!! Cung!"
Dei : (nggak menghiraukan.)
Ari : (mukul kepala Dei) "Eh, penting nih!"
Dei : "Apa sih? Apa? apa?"
Ari : "kamu bawa pensil nggak?"
Dei : "Bawa. Mau minjem? Nih!" (ngasi pensil ke Ari)
Ari : "Yee, aku juga bawa tau :P aku kan cuma nanya."
Dei : "Grrrrrr....."
Beberapa menit kemudian
Ari : "Pik, kamu ya yang nge-share foto kelas kita di fb?"
Devi : "Ya."
Ari : "wee, diliat tau sama bapakku!"
Devi : "bagus lagi!"
Ari : "bagus apa! masa komentar bapakku, "kamu yang paling jelek!""
Dei : "Ahaaa..."
Ari : "Diem! jangan ketawa!"
Try out ketiga
Dei : "Ri, tau nggak jawaban soal ini?"
Ari : "nomer berapa tuh?"
Dei : "nomer 3."
Ari : (menunjukkan keempat jarinya) "nomer 3 berarti jari manis."
Dei : "ngapain sih?"
Ari : "diem! ni lagi melakukan ritual tau!" (menghitung a na ca ra ka dari jari manis, kelingkin, ibu jari, dan seterusnya) "Ah, sampai di jari manis! berarti jawabannya C!"
Dei : "hah?"
Arik: "Eh, apa tuh? ikut dong!" (ikutan nimbrung. nb : bedakan "arik" dan "ari")
Ari : "Ini ajaran baru. Aku dapet di mimpiku."
Dei : "mimpi?"
Ari : "Iya. tadi malem, aku dapet mimpi. Ada nenek-nenek yang masu ke mimpiku."
Dei : "Nenekmu?"
Ari : "Bukan. Nenekku masih sehat di Buleleng. Kayaknya selingkuhan kakekku."
Dei : "Pake baju apa neneknya?"
Ari : "Tanktop hitam bertuliskan Marry Me."
"HWAKAHAKAHKAHAKHAAAAAAA......!!!!!" Aku dan Arik ketawa dengan kerasnya nggak peduli pengawas. Hal itu mengundang rasa penasaran Devi, Ayunia, dan Diah. Ari pun mengajarkan ajarannya pada mereka-mereka ini.
Devi: "apa nama ajaran sesatnya ini?"
Ari : "hmm... Ahmadiyah=amadiah=ajarannya diah. berarti ini Amaari!"
Diah: "Eii! aku gak ada bikin ajaran gitu!"
Dei :"ahaha, bagus namanya!"
Ari : "ya. dan sekarang kalian pengikutnya."
Dei : "Ikh! aku gak ikutan!"
Ari : "kamu tadi ketawa, jadi harus ikut!"
Dan saat itupun, aliran sesat Ari pun lahir.
Ari : "tapi ajaran ini ada pantangannya. Pantangannya adalah nggak boleh makan nasi."
Arik: "Eh?"
Ari : "Tapi kalo nasinya udah dimasak, boleh."
Dei : "Hm."
Ari : "Nggak boleh makan pisang goreng."
Dei : "Yang belum mateng?"
Ari : "Salah! yang belum digoreng lah! Masa ada pisang goreng yang nggak digoreng?"
Dei : "Hm."
Ari : "Trus, nggak boleh makan ikan."
Dei : "yang belum digoreng?"
Ari : "salah! yang masih panas lah! Kalo makan ikan masih panas, bibirmu bisa sakit tau bego!
Dei : "siapa yang bego??!"
Ujian Sekolah
Dei : "Ri, kamu bisa bahasa Bali?"
Ari : "Nggak. Nenekku baru bisa."
Dei : "suruh nenekmu ngajarin aku ya!"
Ari : "Nenekku ada di Buleleng. Kamu nee yang nyari."
Dei : "Kirim nenekmu ke sini, pake Feedex."
Ari : "Oiya, ide bagus!"
Beberapa menit kemudian
Dei : "Eh, kampungmu di Buleleng kan?"
Ari : "Ya. Yang ada monyetnya tuh kalo ke sana."
Dei : "Pasti disana banyak yang satu spesies sama kamu ya, cerewet." (bercanda)
Ari : "Oiya dong! Udah cerewet, ngomongnya kasar lagi! Bisa stres tau nggak kalo lama-lama!"
Dei : (sweetdrop)
Ujian Nasional
Ari : "Cung, gambarin aku sama band-ku. Yang cool ya!"
Dei : "ya ya!" (semangat kalo soal menggambar)
Ari : "Kok kamu bisa gambar sih?"
Dei : "Ee, nggak tau. tiba-tiba."
Ari : "Makan apa kamu? Kamu pasti makan kertas tiap hari ya?"
Dei : "Monyetmu! Nasi. Tapi aku gak suka sayur."
Ari : "Oh. Hey para pengikutku! katanya kalo biar bisa gambar itu, pantangannya adalah nggak boleh makan sayur!"
Devi : "Sayur apa?"
Ari : "sayur mentah! Dan pantangannya lagi, nggak boleh minum air nonmin!"
Ayunia : "Kok gitu?"
Ari : "iya. coba deh, non=tidak. min=kurang. Udah tidak, kurang lagi! nggak boleh minum itu!"
Dei : "Dasar bodoh!"
Ari : "Dan, kalo makan nasi, harus dari beras putri, yang gambarnya ibuk-ibuk lagi nyangkul."
Diah : "Aduh!" (tangannya kejepit jepit rambut)
Ari : "Kamu kenapa Diah?"
Diah : "Nggak, cuma kejepit."
Ari : "Ckckck, jepitan, bukan mainan!" (tampang serius kayak presiden yang bilang no drugs)
Yah, gitulah kisah-kisahku waktu ujian. Bener deh, ketawa keras gak peduli ada pengawas muka sangar, nggak tegang pas ngerjain soal membunuh, dan lainnya. Duh, masa SMPku jadi aneh gara-gara setan itu -_-. Yap, segitu dulu dari Dei. See you, dan belajarlah buat ujian!