Sabtu, 21 Januari 2012

Kalau Ibu Tidak Ada



Ibu adalah anggota keluarga yang paling sibuk di rumah. Apalagi pagi-pagi. Harus ngurusin anak-anaknya yang sakit jiwa ini ke sekolah, terus ngurusin Bapak yang suka pikun sebelum berangkat kerja. Biasanya dia suka absen, "dompet udah? Hp udah? Topi? Kacamata?" dan lain-lain. Setelah itu, dia harus masak sampe siang, bersih-bersih rumah, nyuci, setrika, pokoknya sibuk dah. Apalagi punya anak yang suka pilih-pilih makanan kayak aku, males bantu-bantu kayak aku, atau gak pernah di rumah kerjaannya ngabsen orang dijalanan satu-satu kayak kakakku. Sibuk banget dah.


Dirumah tuh, aku paling males yang namanya ngurusin pekerjaan rumah. Kegiatanku dirumah tuh bisa dibilang kayak beruang. Pulang sekolah, makan trus hibernasi lama banget, mungkin sampe ganti kulit. Melihatku yang terbaring malas-malasan, Ibuku pun tiba-tiba membuka kelas "menjadi istri yang baik" di rumah. Muridnya,  aku dan kakakku. 

Kelas ini dibuka tiap hari dimana aku lagi nganggur gak ada kerjaan. Kadang aku dirusuh nyapu tiap sore, cuci piring habis makan, cuci seragam sendiri, nyetrika, bersihin kamar, dan lainnya. Kalo kerjaan kita bagus, kita akan lulus. Kalau nggak, nggak akan dilulusin. Sebenarnya lulus nggak lulus sama-sama nggak enak. Soalnya kalo kita nggak lulus, akan sering dilatih sampe lulus. Dan kalo lulus, berarti kita udah bisa mengerjakan itu, dan bakal disuruh-suruh terus. 

Kenapa namanya kelas menjadi istri yang baik? karena setiap latihan, Ibu selalu bilang "kamu harus bisa ngerjain pekerjaan rumah tangga. Nanti kan kamu jadi istri. Kalo kamu gak bisa gurus rumah, siapa yang bakal ngurusin?" atau "coba latihan masak sama beres-beres rumah. Nanti kalo Ibu sakit gimana? Siapa yang masakin?"

Akhirnya mulailah kelas itu. Setiap minggu pagi, aku akan dibangunin dan diajak masak. Pertama, aku diajarin mengupas bawang. Ternyata mengupas bawang itu susah dan lama-lama mataku perih dan menangis. Hwaa perih banget dah. Terus juga potong-potong sayur yang sangat membosankan, menggoreng ikan yang sangat membosankan, dan menguliti kentang yang super ribet dah.

Kadang juga, aku bakal disuruh cuci sepeda yang tampaknya sangat kotor dipenuhi lumpur dan lumut. Aku paling malas disuruh yang satu ini. Aku pun mencucinya dengan secepat kilat. Biasanya orang biasa mencuci sepeda memerlukan waktu 30 menit, tapi aku hanya 5 menit. Ibuku kaget dengan kecepatan kerjaku. Tapi ketika dilihat hasilnya... akhirnya aku dinyatakan tidak lulus di bidang mencuci sepeda.

Aku suka bolos kelas menjadi istri yang baik ini. Kadang, aku mengerjakannya nggak serius, kadang aku akan pura-pura lupa, kadang juga aku menolak untuk ikut. Pokoknya, aku nggak suka bersih-bersih.

Pada suatu hari, nenek masuk rumah sakit dan Ibu harus jagain di rumah sakit dan menginap hampir 2 minggu. Jadi, di rumah kita cuma bertiga aja. Awalnya, mungkin rasanya merdeka karena gak ada yang cerewet. Pulang sekolah tanpa ganti baju dan makan, aku bisa langsung tidur sambil baca komik. Trus nonton tv sampe sore, malamnya baru makan. Banzai dah pokoknya.

Tapi itu cuma berlaku sekitar 3 hari. Lama-lama, aku mulai nggak nyaman. Lantai terasa banyak debu. Kasur juga berantakan. Baju-baju terus berkurang tanpa ada rotasi baju yang udah bersih, dan lainnya. Apalagi pagi-pagi. Kita sering kelabakan gara-gara gak ada yang bangunin. 

Pernah nih suatu hari Bapak harus kerja pagi-pagi. Dia bangun pagi-pagi banget mendahului anak-anaknya dan masak sendiri, trus makan. Setelah itu, aku pergi sekolah, tapi cuma sarapan roti. Siangnya, aku mau makan. Aku liat nasi yang dibuat Bapak tadi dan... gila. Nasinya keras dan hitam! Mengerikan!! Tadi pagi Bapak makan nasi kayak gini ya? Wih, kasian banget, ckck. Akhirnya aku suruh kakak buatin makanan yang layak dimakan.

Esok paginya, kakakku membuatkan kami nasi goreng. Tapi, entah kebanyakan isi mentega atau garam, rasanya malah jadi asin banget! Gila, makannya jadi susah. Tapi setidaknya nasi goreng itu layak dimakan, walaupun ekstrim juga.

Air juga gitu. Pernah suatu hari kita kehabisan air minum. Bapak dan kakak nggak sempet beli air karena pulang malem terus, dan aku nggak bisa beli air. Akhirnya, selama beberapa hari, sebelum minum kita masak air dulu! Waaa!!

Tapi, akhirnya waktu itu kakak pulang cepet dan kita pun beli air yang layak diminum. Rasanya seneng banget bisa minum air layak minum setelah beberapa hari minum air yang sebelum bisa diminum harus ditiup-tiup dulu. Merdeka deh.

Terus, pernah juga waktu mau sekolah, aku buka lemari dan baju seragam gak ada! Wewewew, aku mulai panik dan ngubek-ngubek lemari. Alhasil, aku nemuin bajunya di lemari tempat kumpulan baju yang belum disetrika. Disana, tumpukan baju belum disetrika sangat banyak dan menggunung. Karena gak sempat, aku segera menyetrika baju seragamku itu saja.

Malamnya, Bapak pulang, dan segera menyetrika. Dia menyetrika sampai jam 2 pagi! Karena aku nggak bisa menyetrika, aku hanya melihatnya di balik pintu. Kasian...

Akhirnya, aku pun mulai sadar diri. Aku mulai mau bersih-bersih tanpa disuruh. Aku juga mau ngurusin barang-barangku. Akhirnya aku jadi anak yang baik (´▽`)

Beberapa hari kemudian, Ibuku pun pulang. Tampangku yang sudah lecek seperti anak buangan itu pun merasa sangat senang, walaupun Ibu marah-marah karena rumah seperti kapal pecah. Padahal, aku sudah mengerjakan pekerjaan rumah dengan susah payah. Pada hari itu, Ibu pun sibuk bersih-bersih.

Dan aku? Apakah setelah itu aku jadi anak yang super rajin? Entahlah, sepertinya tidak. Hehe.