Aku Grace Boston. Aku ingin menceritakan kesalahanku yang cukup fatal dan membuatku benar-benar kehilangan. Bahkan, lebih parah dari kehilangan diriku sendiri. Ya, itu kesalahanku karena aku takut aku benar-benar hilang dan membuat orang-orang yang aku kenal dan aku sayangi membenciku.
Kisah ini berawal ketika aku berumur 13 tahun. Ketika itu, aku memiliki penyakit jantung bawaan sejak lahir. Hal itu membuatku tidak punya teman, dan membenci sekolah.
Ketika libur musim semi, orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya dan akhirnya mereka membawaku ke rumah kakek di Kanada. Kakek adalah seorang peternak, dan tinggal di atas bukit.
Aku benar-benar suka disana. Setiap pagi, aku selalu berlari-larian (walau sering dimarahi kakek karena penyakitku) ke kandang domba bersama Rick, Golden Retriever milik kakek. Kami juga bermain tangkap bola, dan memandikan sapi. Setelah itu, aku dan kakek memerah susu sapi, dan kakek mengizinkanku untuk meminumnya. Udara di sana juga segar dan pemandangannya yang indah, tidak seperti di Washington. Aku suka tempat itu.
Suatu ketika, aku bersama Rick bermain tangkap bola. Nampaknya Rick semakin lama semakin pintar saja menangkap bola yang kulempar. Aku terus tertawa dan sangat senang. Tapi sepertinya kami bermain terlalu jauh sampai ke kaki bukit, dan itu membuat kami tersesat. Aku mulai takut dan panik. Apalagi, matahari sudah mulai tenggelam dan suasana menjadi semakin gelap. Aku mulai merinding dan merasa takut. Aku menjongkokkan diriku di bawah pohon sambil memegang erat rantai Rick. Tak beberapa lama kemudian, tiba-tiba saja aku mendengar bunyi raungan serigala. Mendengar itu, aku menjadi sangat ketakutan. Rasanya ingin cepat berlari, tapi aku sama sekali tak melihat jalan karena gelap. Rick menggonggong terus, dan aku mulai menangis ketakutan. Aku hanya duduk di bawah pohon, tak berani berjalan selangkahpun. Tapi Rick terus saja menggonggong membuatku kesal padanya.
Tiba-tiba, muncul bayangan seseorang dari balik kegelapan, arah dimana Rick menggonggong. Orang itu menyorotkan sinar senter yang Ia pegang ke arahku, sampai aku merasa sangat silau. Siluet itu mendekat, dan gonggongan Rick makin keras. Pikiranku pun melayang ke hal-hal yang menyeramkan akan menyerangku sekarang. Aku sangat ketakutan dan mulai merapatkan diriku pada pohon, sambil terus berdoa.
Orang itu semakin mendekat. Aku berusaha melihatnya, dan samar-samar aku dapat melihatnya-laki-laki seumuran denganku, dengan mata coklat, berbaju dan topi juga coklat, berusaha mendekatiku. Dia terlihat baik, tapi aku masih siaga.
"Hei, kau tidak apa-apa? Sedang apa malam-malam begini?" tanya anak laki-laki itu padaku.
Aku agak sedikit lega karena tampaknya dia adalah orang baik, dan aku pun membalas pertanyaannya.
"Tolong, aku tersesat," kataku.
"Hah? Malam-malam begini? Maukah tinggal sebentar di rumahku? Disini berbahaya," ajaknya.
"Tidak! Tidak bisa! Kakek pasti menghawatirkanku. Aku mau pulang," kataku.
"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu," katanya lagi.
"Di atas bukit, di Peternakan Boston," balasku.
"Kenapa bisa sampai sini? Hmm.. baiklah, ayo aku antar. Disini sedikit berbahaya. Jangan sampai kamu dimakan serigala," katanya sambil menarik tanganku. Aku mengiyakannya, walaupun aku tahu, aku tidak boleh menuruti ajakan orang yang tak aku kenal. Tapi, aku merasakan bahwa dia sangat baik. Rick yang terus menggonggong, aku perintahkan untuk diam.
Dia berjalan sambil menggenggam tanganku sangat erat. Sepertinya dia berusaha agar kami tidak terpisah. Aku juga mengeratkan genggamanku pada rantai Rick. Aku agak kesusahan berjalan di kegelapan, apalagi tanah yang kami pijak banyak ranting.
"Hati-hati berjalannya. Jalannya agak licin, jangan sampai kau jatuh," katanya. Aku mengangguk, dan menurutinya. Aku heran, kenapa dia sangat peduli padaku, padahal kami tak saling kenal.
"Kau tahu, di sini banyak serigala liar yang suka memangsa hewan ternak kami. Bahkan, dia pernah melukai masyarakat. Ayahku sudah jadi korbannya, dan untung dia selamat. Jadi, jangan sampai kau jadi korban berikutnya," katanya lagi sambil terus berjalan di bawah lampu senter yang Ia bawa. Aku berusaha melihat raut wajahnya. Aku kagum padanya yang begitu baik pada orang lain.
Selama perjalanan, kami hanya terdiam dan tak saling bicara. Aku hanya diam saja karena pikiranku masih melayang dan menebak-nebak tentang laki-laki yang sedang menolongku ini. Dan dari genggaman laki-laki ini yang agak meregang dari yang tadi, aku dapat menebak bahwa dia agak tegang. Lama kelamaan, aku jadi tidak senang dengan suasana yang agak kaku begini.
Selama perjalanan, kami hanya terdiam dan tak saling bicara. Aku hanya diam saja karena pikiranku masih melayang dan menebak-nebak tentang laki-laki yang sedang menolongku ini. Dan dari genggaman laki-laki ini yang agak meregang dari yang tadi, aku dapat menebak bahwa dia agak tegang. Lama kelamaan, aku jadi tidak senang dengan suasana yang agak kaku begini.
"Siapa namamu?" tanyaku.
"Jacob Patrone. Panggil saja aku Jake atau.. yah, sesukamu lah," jawabnya. Aku tersenyum.
"Aku Grace Boston. Kau boleh panggil aku Grace," jawabku.
"Grace? Baiklah. Ngomong-ngomong, kau cucunya kakek Boston?" tanyanya.
"Yup. Kau mengenal kakekku?" tanyaku.
"Ya. Dia kakek yang baik, dan menghasilkan susu yang enak," jawabnya. Aku terkikik.
"Kau juga seorang peternak?" tanyaku. Tampaknya aku berhasil sedikit mencairkan suasana.
"Iya. Orang tuaku seorang peternak domba di peternakan kecil. Kadang-kadang sepulang sekolah, aku membantu mereka menjaga domba-domba," jawabnya. "Kalau kamu bagaimana?"
"A.. aku, aku cuma pelajar biasa, dan orang tuaku bekerja di sebuah perusahaan di Washington. Mereka sangat sibuk, bahkan tidak bisa menemaniku liburan kali ini," jawabku terbata-bata karena Ia menanyakan kehidupanku yang datar.
"Wow, keluargamu pasti kaya," komentarnya sambil terkagum.
"Ti.. tidak, itu tidak benar," jawabku mengelak. Dia hanya tersenyum dan sedikit tertawa. kami pun terus berjalan.
"Nah, kita sudah sampai di rumah kakek Boston," katanya. Aku segera menarik rantai Rick, dan membuka pintu gerbang.
"Dah, aku harus pulang. Senang mengenalmu," kata Jake sambil tersenyum.
"Bisakah kita bertemu lagi?" pintaku. "Aku mohon!"
"Hah? Tapi rumah kita jaraknya cukup jauh," katanya sedikit keberatan.
"Aku mohon! Aku tidak punya teman!" pintaku memelas. Jake sedikit berpikir dan menimang-nimang.
"Baiklah, setiap sore aku akan mengunjungimu," katanya. Aku senang sekali.
Esoknya, sesuai janjinya, Jake pun mengunjungiku. Kini, aku bisa dengan jelas melihat sosoknya. Tingginya sama denganku, dengan badan yang kurus. Rambutnya coklat dan agak ikal, dengan wajah yang berbintik-bintik. Ekspresinya ceria dan semangat. Dengan senang, aku segera menghampiri Jake.
"Sekarang, kita mau apa?" tanyanya.
"Kita lakukan apa saja," kataku sambil tertawa.
Jake memandangku sinis. "Iya, tapi apa??"
Aku mulai berpikir. Tapi, aku tidak menemukan ide yang bagus.
"Ah! Aku tahu tempat yang bagus!" kata Jake sambari menarik tanganku. Jake mengajakku ke tempat yang jauh. Kita menaiki bukit, naik terus, terus dan terus hingga rasanya aku sudah sampai di ujung dunia. Itu membuatku sangat kelelahan dan ingin beristirahat.
"Jake, kita mau kemana sih? Aku kelelahan nih, istirahat dulu yuk," ajakku sambil ngos-ngosan.
"Sabar, tahanlah sedikit, kita sudah hampir sampai nih. Pas banget cuacanya cerah banget, pasti pemandangannya jadi terlihat jelas, kata Jack tersenyum.
"Yang benar? Rasanya kita sudah jalan bermil-mil, tapi nggak sampai-sampai," kataku.
"Kalau kamu sudah melihat apa yang ingin kuperlihatkan, kamu pasti nggak merasa rugi. Kalau tidak, kamu boleh bunuh aku deh!" kata Jack sambil tertawa jahil.
"Huu dasar kamu ini!" kataku memukul tangannya pelan. Dia tertawa keras, dan aku pun membalasnya dengan tawa geli.
"Jake, kita mau kemana sih? Aku kelelahan nih, istirahat dulu yuk," ajakku sambil ngos-ngosan.
"Sabar, tahanlah sedikit, kita sudah hampir sampai nih. Pas banget cuacanya cerah banget, pasti pemandangannya jadi terlihat jelas, kata Jack tersenyum.
"Yang benar? Rasanya kita sudah jalan bermil-mil, tapi nggak sampai-sampai," kataku.
"Kalau kamu sudah melihat apa yang ingin kuperlihatkan, kamu pasti nggak merasa rugi. Kalau tidak, kamu boleh bunuh aku deh!" kata Jack sambil tertawa jahil.
"Huu dasar kamu ini!" kataku memukul tangannya pelan. Dia tertawa keras, dan aku pun membalasnya dengan tawa geli.
"Nah, lihat! Bagus kan?" tanya Jake.
Aku mendongakkan kepalaku, dan langsung berteriak antusias. Aku terkagum-kagum melihat pemandangan yang indah ini. Jake mengajakku ke atas tebing yang tinggi, sehingga kami dapat melihat lembah yang indah di bawahnya. Banyak pemukiman, dan juga sungai kecil yang mengalir indah. Ditambah lagi dengan hamparan rumput yang hijau yang dihiasi dengan kambing dan domba gemuk yang sedang makan di ladang itu. Semua itu diapit oleh dua gunung hijau yang kokoh tinggi menjulang. Badanku yang berada di tepi tebing dapat merasakan bau yang segar, dan angin siang yang sejuk kubiarkan bebas menerpaku. Sejenak, kupejamkan mata untuk merasakan keindahannya. Rasanya seperti berada di negeri fantasi yang sangat memukau.
Aku mendongakkan kepalaku, dan langsung berteriak antusias. Aku terkagum-kagum melihat pemandangan yang indah ini. Jake mengajakku ke atas tebing yang tinggi, sehingga kami dapat melihat lembah yang indah di bawahnya. Banyak pemukiman, dan juga sungai kecil yang mengalir indah. Ditambah lagi dengan hamparan rumput yang hijau yang dihiasi dengan kambing dan domba gemuk yang sedang makan di ladang itu. Semua itu diapit oleh dua gunung hijau yang kokoh tinggi menjulang. Badanku yang berada di tepi tebing dapat merasakan bau yang segar, dan angin siang yang sejuk kubiarkan bebas menerpaku. Sejenak, kupejamkan mata untuk merasakan keindahannya. Rasanya seperti berada di negeri fantasi yang sangat memukau.
"Keren!" jawabku. Jake tersenyum.
"Keren kan? Tapi jangan bilang siapa-siapa kita ke sini. Semua orang tua melarang anak-anaknya kesini karena berbahaya. Kau juga hati-hati ya!" katanya. Aku mengangguk. Aku senang sekali. Baru pertama kali aku melihat pemandangan seindah ini secara langsung, tidak di tv maupun buku.
"When I saw you for the first time, I knew you were the one. You didn't say a word to me, but love was in the air..." saking senangnya, tanpa sadar aku mengalunkan sebuah lagu.
"Hey, suaramu bagus!" kata Jake. Aku sadar bahwa aku mengalunkan lagu, dan aku jadi sangat malu.
"Ma.. maaf.." kataku. Aku sangat malu.
"Kenapa minta maaf? Ayo lanjutkan. Aku ingin mendengarkannya lagi," pinta Jake. Aku pun menurutinya, dan melanjutkan bernyanyi.
"Then you held my hand, pulled me into your world. From then on my life has changed for me..."
Sejak hari itu, setiap hari, Jake mengunjungiku, dan kami bermain bersama. Kami berpiknik di rerumputan bukit, memetik bunga, membantu kakek memerah susu sapi dan meminumnya, memanggang sosis, bermain lempar bola bersama Rick, dan lainnya. Kadang, aku bernyanyi, dan Jake mendengarkan dengan senang. Katika aku selesai bernyanyi, dia akan bertepuk tangan. Kata Jake, suaraku mirip Nika, salah satu penyanyi yang terkenal waktu itu. Lebih bagus malah. Tapi aku hanya menanggapinya dengan tawa karena kupikir itu gila. Mana mungkin suaraku sebagus itu. Kakek mengizinkanku untuk berteman dengan Jake. Aku sangat gembira bisa bertemu dengan orang yang baik dan menyenangkan seperti Jake.
"Jake, aku ingin bercerita padamu," kataku suatu hari ketika memakan sosis bakar bersama Jake.
"Cerita apa?" tanyanya sambil mengunyah sosis.
Aku menunduk. "Jake, kau tahu, aku punya penyakit yang cukup parah," kataku.
"Hah? Lalu bagaimana? Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan panik. Aku tersenyum.
"Tidak apa kok! Akhir-akhir ini aku tampak sehat. Ini semua berkat kamu juga. Kau tahu Jake, di Washington, aku merasa di diskriminasi. Karena penyakitku, teman-temanku tidak ada yang mau berteman denganku. Orang tuaku juga sibuk sekali. Aku sangat kesepian, Jake," kataku sedih.
Jake memegang pundakku. Aku menoleh ke arahnya.
"Grace, apa kau tidak bertanya pada teman-temanmu mengapa Ia menjauhimu?" tanya Jake. Sejenak aku terdiam, kemudian menggeleng.
"Kupikir, kau hanya perlu jujur pada dirimu sendiri. Jujurlah, kau merasa kesepian. Jadi, kamu harus melawan kesepian itu dan mendekati diri dengan orang lain, jangan minta didekati oleh orang lain," kata Jake sambil tersenyum.
Aku merenungi kata-kata Jake. Benar, selama ini aku merasa berbeda dengan orang lain karena penyakitku. Aku jadi sering merasa iri dengan teman lainnya yang bisa tertawa bebas dengan yang lain. Aku hanya berani melihat, tapi tidak berani bergabung. Aku merasa terlalu rendah dan tidak selevel dengan mereka yang sehat dan kuat. Kini, aku menyadari bahwa semua itu salahku.
"Terima kasih, Jake," kataku lirih. Jake melihatku dengan tatapan sedikit panik karena melihatku sedikit sedih.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! Maaf kalau aku tidak pintar merangkai kata-kata. Ayo lanjutkan makannya, nanti jatahmu kumakan semua lho!" kata Jake menggodaku.
"Enak saja, tidak boleh!" kataku menjulurkan lidah. "Ngomong-ngomong, kau pintar merangkai kata-kata kok," jawabku sambil melihat kearahnya.
"Hah, mana mungkin!" kata Jake. Aku tertawa keras, dibalas dengan tawa Jake yang tak kalah keras.
"Jake, aku ingin bercerita padamu," kataku suatu hari ketika memakan sosis bakar bersama Jake.
"Cerita apa?" tanyanya sambil mengunyah sosis.
Aku menunduk. "Jake, kau tahu, aku punya penyakit yang cukup parah," kataku.
"Hah? Lalu bagaimana? Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan panik. Aku tersenyum.
"Tidak apa kok! Akhir-akhir ini aku tampak sehat. Ini semua berkat kamu juga. Kau tahu Jake, di Washington, aku merasa di diskriminasi. Karena penyakitku, teman-temanku tidak ada yang mau berteman denganku. Orang tuaku juga sibuk sekali. Aku sangat kesepian, Jake," kataku sedih.
Jake memegang pundakku. Aku menoleh ke arahnya.
"Grace, apa kau tidak bertanya pada teman-temanmu mengapa Ia menjauhimu?" tanya Jake. Sejenak aku terdiam, kemudian menggeleng.
"Kupikir, kau hanya perlu jujur pada dirimu sendiri. Jujurlah, kau merasa kesepian. Jadi, kamu harus melawan kesepian itu dan mendekati diri dengan orang lain, jangan minta didekati oleh orang lain," kata Jake sambil tersenyum.
Aku merenungi kata-kata Jake. Benar, selama ini aku merasa berbeda dengan orang lain karena penyakitku. Aku jadi sering merasa iri dengan teman lainnya yang bisa tertawa bebas dengan yang lain. Aku hanya berani melihat, tapi tidak berani bergabung. Aku merasa terlalu rendah dan tidak selevel dengan mereka yang sehat dan kuat. Kini, aku menyadari bahwa semua itu salahku.
"Terima kasih, Jake," kataku lirih. Jake melihatku dengan tatapan sedikit panik karena melihatku sedikit sedih.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! Maaf kalau aku tidak pintar merangkai kata-kata. Ayo lanjutkan makannya, nanti jatahmu kumakan semua lho!" kata Jake menggodaku.
"Enak saja, tidak boleh!" kataku menjulurkan lidah. "Ngomong-ngomong, kau pintar merangkai kata-kata kok," jawabku sambil melihat kearahnya.
"Hah, mana mungkin!" kata Jake. Aku tertawa keras, dibalas dengan tawa Jake yang tak kalah keras.
***
"Jake!" teriakku gembira ketika melihat Jake dari kejauhan. Jake segera berlari mendekatiku.
"Maaf, aku terlambat. Aku harus membantu ayahku dulu untuk membawa bulu domba ke kota," jawab Jake sambil ngos-ngosan.
"Tidak masalah," jawabku. "Kita main apa sekarang?"
"Entahlah, aku terlalu kelelahan untuk berpikir," kata Jake.
Aku mulai berpikir. "Hmm.. bagaimana kalau kita ke tebing yang waktu itu? Aku ingin melihat pemandangannya yang indah!" kataku.
"Tapi sebentar saja ya? Kalau ketahuan orang lain, maka matilah kita," kata Jake. Aku terkikik dan mengangguk.
Sesampainya di tebing itu, aku sangat gembira. Pemandangannya sangat indah. Aku berusaha melihat lembah di bawah tebing. Jake berkali-kali memintaku untuk berhati-hati. Yah, aku tahu kalau aku jatuh, itu sangat gawat. Tiba-tiba, mataku tertuju pada taman bunga yang ada di lembah itu.
"Hey, bisakah kau membawaku ke lembah itu? Aku ingin ke kebun bunganya!" pintaku.
"Hah? Tidak, aku tidak pernah kesana. Lagipula itu sangat jauh!" jawab Jake keberatan.
"Ayolah, tidak jauh kok. Lagipula aku yakin kita bisa kembali sebelum matahari terbenam," pintaku lagi.
"Tidak, itu ide gila," tolak Jake.
"Ayolah! Aku mohon!" pintaku memelas.
Akhirnya Jake mengalah dan dengan berat hati Ia menuruti permintaanku. "Hanya sebentar, ya!" pintanya. Aku mengangguk gembira. Kami pun berjalan menuruni bukit.
Tapi, di pertengahan jalan, kami malah sampai di tepi hutan. Jake agak ketakutan, dan meminta padaku agar kita pulang saja. Aku yang juga agak takut pun mengangguk.
Baru saja kita membalikkan badan, tiba-tiba aku mendengar suara yang sedikit menyeramkan di belakang kami. Aku segera menoleh kaget.
"Jake, suara apa itu?" tanyaku ketakutan.
"Jangan-jangan... Ini gawat," kata Jake yang tak kalah ketakutan. Ia mendekapku yang ketakutan dengan erat. "Ayo kita pergi secepatnya," ajak Jake sambil mengambil melangkah pelan menjauh dari arah hutan.
Suara geraman yang kita dengar semakin keras saja. Jake yang terus menggenggamku mengajak untuk berlari. Baru saja mengambil ancang-ancang, tiba-tiba saja seekor serigala hitam muncul di hadapan kami. Sontak Jake berteriak kaget dan ketakutan. Aku menangis dan memeluk Jake erat. Jake berusaha mengusir serigala itu, tapi itu tidak mungkin. Tiba-tiba, muncul lagi dua serigala di arah samping kami. Jake ketakutan dan aku berteriak keras. Jake berusaha menenangkanku, tapi aku tetap ketakutan. Serigala itu siap memangsa kami.
"Jake, suara apa itu?" tanyaku ketakutan.
"Jangan-jangan... Ini gawat," kata Jake yang tak kalah ketakutan. Ia mendekapku yang ketakutan dengan erat. "Ayo kita pergi secepatnya," ajak Jake sambil mengambil melangkah pelan menjauh dari arah hutan.
Suara geraman yang kita dengar semakin keras saja. Jake yang terus menggenggamku mengajak untuk berlari. Baru saja mengambil ancang-ancang, tiba-tiba saja seekor serigala hitam muncul di hadapan kami. Sontak Jake berteriak kaget dan ketakutan. Aku menangis dan memeluk Jake erat. Jake berusaha mengusir serigala itu, tapi itu tidak mungkin. Tiba-tiba, muncul lagi dua serigala di arah samping kami. Jake ketakutan dan aku berteriak keras. Jake berusaha menenangkanku, tapi aku tetap ketakutan. Serigala itu siap memangsa kami.
Aku sangat ketakutan. Aku menangis keras dan memeluk Jake erat. Mataku tak berani terbuka. Geraman serigala-serigala itu semakin keras dan siap memangsa kami. Jake mengambil kayu dan mengayunkannya ke arah serigala. Aku tidak berani melihat. Aku takut. Ini semua salahku. Salahku, salahku dan salahku. Salahku karena memaksa Jake untuk mengantarkanku ke lembah dan tidak memikirkan bahayanya. Aku benar-benar jahat. Karena merasa memiliki Jake, aku seenaknya menyuruhnya mengantarkanku ke manapun. Kini, aku dan Jake dalam bahaya besar. Ini salahku, dan akibatnya aku akan kehilangan orang yang kucintai.
Aku ketakutan. Jantungku berdegup kencang. Sangat kencang. Rasanya sakit. Aku pun mulai lemas dan tak sadarkan diri. Sebelum aku benar-benar pingsan, aku sempat mendengar suara Jake yang panik karena aku pingsan, dan suaranya yang berusaha keras mengusir para serigala yang mulai mendekat.
***
"Grace? Kau sudah sadar?" teriak Ibu gembira. Aku berusaha membuka mataku dan melihat ke sekeliling. Ternyata, aku ada di rumah sakit. Di sekelilingku, aku melihat Kakek, dokter, dan kedua orang tuaku.
"Kau baik-baik saja? Kau tidak sadarkan diri selama tiga hari!" kata Ibu sambil memelukku. Dokter juga menghampiriku, dan memeriksa keadaanku.
"Grace sudah sedikit membaik. Tapi, ia tidak boleh melakukan hal yang keras, dan sebaiknya dia dibawa ke rumah sakit yang peralatan medisnya lebih lengkap," kata dokter.
"Grace, Ibu senang kamu punya teman. Tapi kau tidak boleh bermain terlalu jauh, apalagi sampai ke hutan! Lagipula, apa yang kau lakukan disana? Kau hampir saja jadi santapan serigala liar!" kata Ibu padaku. Aku tertunduk lesu. Aku tahu Ibu sedang melarangku berteman dengan Jake. Padahal semua ini kesalahanku.
"Grace, besok kita akan pulang dan kamu akan dirawat di rumah sakit di Washington," kata ayah. Aku kaget dan kecewa. Berarti ini adalah terakhir kalinya aku bertemu Jake.
Hari itu juga aku sudah boleh pulang. Malamnya, setelah aku membereskan barang-barangku, aku mendengar suara ketukan dari jendela. Dadaku berdegup kencang. Aku segera mendekat. Dari balik jendela itu, aku melihat Jake sedang melambai-lambaikan tangannya dengan gembira. Aku segera membuka jendelanya, dan memeluk Jake.
"Grace.. maaf... maaf... aku tidak bisa melindungimu," kata Jake. Aku menggeleng.
"Kamu telah melindungiku, kau hebat!" jawabku.
"Kau tahu, aku sangat kaget ketika kau pingsan. Serigala-serigala itu juga menggigit celanaku. Lihat! Celanaku sampai robek begini!" katanya. Aku tersenyum dan terkikik.
"Untunglah waktu itu Mr. John melihat kita diserang serigala. Ia langsung menembak serigala-serigala itu dengan senapannya. Pokoknya gayanya keren sekali! Andai kau melihatnya, kau pasti sangat kagum," kata Jake. Aku cekikikan lagi.
"Oh ya," kata Jake tiba-tiba sambil merogoh sesuatu dari tasnya. "Ini, aku bawakan bunga. Maaf tidak berhasil mengajakmu ke kebun bunga itu. Jadi aku mencarikan bunga lain untukmu," katanya dengan suara lirih sambil memberikan beberapa bunga liar yang berwarna putih dan kuning. Bunga yang indah, dengan sedikit noda tanah di kelopaknya. Walau indah, tapi aku yakin tak ada yang menghiraukannya di pinggiran jalan, kecuali Jake. Mungkin mirip dengan nasibku. Nasibku yang dipinggirkan oleh orang-orang sekitar dan tak ada yang memperhatikan keberadaanku. Tak ada yang bisa menerimaku dalam lingkaran kehangatan mereka. Tapi, ternyata ada yang mau mengajakku. Ada yang mau menerima keberadaanku dan memberikanku keceriaan. Aku senang sekali. Tapi, juga sesak karena sedih. Air mataku pun tak dapat kutahan. Aku terisak.
"Kau kenapa? Tidak suka pada bunganya ya? Maaf," kata Jake. Aku menggeleng cepat.
"Aku senang sekali. Terima kasih!" kataku. Jake melihat mataku.
"Grace," kata Jake.
"A.. apa..?" tanyaku.
Wajah Jake semakin mendekat, dan dia mencium pipiku.
"Aku suka kamu," katanya.
"A..aku juga, sangat sangat suka kamu!" balasku.
Kami terdiam sejenak.
"Jadi, maukah kau menikah denganku suatu saat nanti?" tanyanya dengan wajah yang menunduk malu.
Mataku membesar dan mulutku menganga seketika. Benarkah yang aku dengar tadi? Apakah aku tidak salah, bisa mendapatkan kebahagiaan sebesar ini? Aku hanya terdiam. Pikiran dan hatiku kosong. Tapi ada satu. Mataku menerawang, tentang diriku yang sekarang. Diriku yang sebenarnya. Diriku dengan Jake nanti. Aku segera membuka mulutku untuk berbicara.
Mataku membesar dan mulutku menganga seketika. Benarkah yang aku dengar tadi? Apakah aku tidak salah, bisa mendapatkan kebahagiaan sebesar ini? Aku hanya terdiam. Pikiran dan hatiku kosong. Tapi ada satu. Mataku menerawang, tentang diriku yang sekarang. Diriku yang sebenarnya. Diriku dengan Jake nanti. Aku segera membuka mulutku untuk berbicara.
"Maaf."
"Kenapa?" tanyanya kaget. Aku mulai menangis.
"Maaf. Aku pikir hidupku tinggal sebentar lagi. Aku punya penyakit jantung, dan aku memutuskan untuk dioperasi. Jika operasinya berhasil, aku bisa hidup terus. Tapi kalau tidak..." Aku menghentikan kata-kataku sambil terus terisak. Jake tersenyum dengan kening yang berkerut.
Beberapa menit kami terdiam. Aku dan Jake tidak bersuara sedikitpun. Sepi.
"Aku mengerti. Jadi, kau memintaku untuk tidak menunggumu, kan? Aku akan menurutinya. Karena semua permintaanmu akan kupenuhi," katanya. Aku terus menangis. Jake menatapku dengan tatapan lirih. keningnya berkerut, tapi dipaksanya untuk terus tersenyum. Aku tahu hatinya juga bergemuruh sedih. Tapi Ia menahan perasaannya dan terus mencoba tersenyum. Setelah mengelus-elus pundakku agar aku sedikit tenang, Ia melepas topinya, dan memberikannya padaku.
"Anggap saja itu aku. Jangan lupakan aku, ya?" pintanya. Sebelum pergi, Jake mencium keningku. Setelah itu, dia segera melompat dari jendela. Sambil melambaikan tangan, berlari ke dalam kegelapan malam, lalu menghilang.
***
Hari-hari terus berlalu. Aku berhasil melewati operasi jantungku, dan operasinya berhasil. Aku bisa menjalani hidupku dengan normal. Kini umurku sudah 22 tahun. Aku ingin mewujudkan cita-citaku sebagai seorang penyanyi, dan aku pun memutuskan sekolah di sebuah sekolah musik di London.
Kini aku bisa menjalani hidup normal. Aku mencari teman sebanyak aku mau. Dan aku pun mendapatkan cukup banyak sahabat yang sangat baik padaku. Aku mulai mencintai hidupku. Hidupku yang damai dan penuh dengan kehangatan. Berbekal dengan prinsip, "jujurlah, dan dekati duluan" membuatku dapat bersosial dengan cukup baik.
Kini aku bisa menjalani hidup normal. Aku mencari teman sebanyak aku mau. Dan aku pun mendapatkan cukup banyak sahabat yang sangat baik padaku. Aku mulai mencintai hidupku. Hidupku yang damai dan penuh dengan kehangatan. Berbekal dengan prinsip, "jujurlah, dan dekati duluan" membuatku dapat bersosial dengan cukup baik.
Suatu hari, aku menerima telepon dari Ibuku. Katanya, Kakek meninggal dunia, dan aku harus pergi ke Kanada di hari pemakamannya. Aku sangat kaget dan cukup sedih atas kematian kakekku. Kakekku yang sangat baik. Aku menyesal karena sudah bertahun-tahun tidak pernah mengunjunginya. Aku sangat menyesal. Dua hari kemudian, setelah meminta cuti aku pun berangkat ke Kanada.
Sampainya di Kanada, sepertinya aku sedikit telat karena kakek ternyata sudah dimakamkan. Beberapa tamu menyalamiku dan mengucapkan turut berduka cita. Tiba-tiba, ada seorang laki-laki dewasa mendekatiku. Ia berambut coklat ikal dengan wajah coklat muda dan dihiasi dengan bintik-bintik. Wajah yang sangat ramah dan lembut. Seketika hatiku seperti disabit. Nafasku tersendat, dan pikiranku berputar jauh.
"Turut berduka cita atas kematian Tuan Boston," kata laki-laki itu padaku. Aku terdiam sejenak sambil terus melihat wajahnya.
"Jake?" tanyaku.
"Oh? Kau mengenalku?" tanyanya. Aku sedikit terkejut. Dia lupa padaku.
"I..iya, aku pernah melihatmu," kataku.
"Benarkah? Maaf mungkin aku lupa," katanya sambil tersenyum. Aku terus menatapnya. Aku merasakan rindu, senang, dan sedih. Perasaanku meluap-luap, merasakan perasaan di hari itu, jauh bertahun-tahun yang lalu.
Tiba-tiba ada seorang wanita berambut pirang dan keriting mendekati Jake.
"Oh, Nona Boston, perkenalkan ini istriku Lily," kata Jake padaku.
"Perkenalkan, aku Lily Patrone," kata wanita itu sambil menyalamiku. Mendengar itu, aku merasakan sesuatu pada hatiku. Sesuatu yang membuat hatiku merasakan kecewa yang sangat dalam. Sesuatu yang ingin membuatku menghilang.
Air mataku pun tanpa kusadari menetes.
"Kenapa kau menangis? Tenanglah, kakekmu pasti bahagia disana," kata Lily padaku. Aku tidak membalas perkataannya. Aku hanya terdiam dan membiarkan air mata membasahi wajahku.
"Ma, aku lapar," tiba-tiba saja seorang anak perempuan mendekati Lily.
"Tunggu sebentar, sayang," kata Lily pada anak itu. Aku melihat mereka dengan perasaan tak percaya.
"Dia... anak kalian?" tanyaku pelan.
"Iya, ini anak perempuan kami," kata Jake. "Grace, ayo beri salam pada Nona Boston!" kata Jake pada anak itu.
"Grace?" tanyaku lagi.
"Grace, Grace Patrone nama anak kami. Jake yang memberikan nama itu. Dia anak pertama kami dan umurnya baru setahun," jawab Lily.
"Iya. Grace itu nama temanku. Tapi aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Entah sekarang dia masih hidup atau tidak," kata Jake. "Ah, maaf. Kita jadi bercerita tentang keluarga kecil kami," kata Jake sambil tertawa. Tawa yang memancarkan kehangatan dan keceriaan. Tawa yang sama seperti dulu. Tawa yang sangat kurindukan.
Aku melihat keluarga itu. Keluarga Patrone yang berbahagia. Jake benar-benar menuruti permintaanku untuk tidak menungguku karena aku takut aku akan mati. Seandainya di hari itu aku tidak mengatakan hal itu dan menerima permintaanya, akankah sekarang aku bisa berada di samping Jake?
"Turut berduka cita atas kematian Tuan Boston," kata laki-laki itu padaku. Aku terdiam sejenak sambil terus melihat wajahnya.
"Jake?" tanyaku.
"Oh? Kau mengenalku?" tanyanya. Aku sedikit terkejut. Dia lupa padaku.
"I..iya, aku pernah melihatmu," kataku.
"Benarkah? Maaf mungkin aku lupa," katanya sambil tersenyum. Aku terus menatapnya. Aku merasakan rindu, senang, dan sedih. Perasaanku meluap-luap, merasakan perasaan di hari itu, jauh bertahun-tahun yang lalu.
Tiba-tiba ada seorang wanita berambut pirang dan keriting mendekati Jake.
"Oh, Nona Boston, perkenalkan ini istriku Lily," kata Jake padaku.
"Perkenalkan, aku Lily Patrone," kata wanita itu sambil menyalamiku. Mendengar itu, aku merasakan sesuatu pada hatiku. Sesuatu yang membuat hatiku merasakan kecewa yang sangat dalam. Sesuatu yang ingin membuatku menghilang.
Air mataku pun tanpa kusadari menetes.
"Kenapa kau menangis? Tenanglah, kakekmu pasti bahagia disana," kata Lily padaku. Aku tidak membalas perkataannya. Aku hanya terdiam dan membiarkan air mata membasahi wajahku.
"Ma, aku lapar," tiba-tiba saja seorang anak perempuan mendekati Lily.
"Tunggu sebentar, sayang," kata Lily pada anak itu. Aku melihat mereka dengan perasaan tak percaya.
"Dia... anak kalian?" tanyaku pelan.
"Iya, ini anak perempuan kami," kata Jake. "Grace, ayo beri salam pada Nona Boston!" kata Jake pada anak itu.
"Grace?" tanyaku lagi.
"Grace, Grace Patrone nama anak kami. Jake yang memberikan nama itu. Dia anak pertama kami dan umurnya baru setahun," jawab Lily.
"Iya. Grace itu nama temanku. Tapi aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Entah sekarang dia masih hidup atau tidak," kata Jake. "Ah, maaf. Kita jadi bercerita tentang keluarga kecil kami," kata Jake sambil tertawa. Tawa yang memancarkan kehangatan dan keceriaan. Tawa yang sama seperti dulu. Tawa yang sangat kurindukan.
Aku melihat keluarga itu. Keluarga Patrone yang berbahagia. Jake benar-benar menuruti permintaanku untuk tidak menungguku karena aku takut aku akan mati. Seandainya di hari itu aku tidak mengatakan hal itu dan menerima permintaanya, akankah sekarang aku bisa berada di samping Jake?
