Pertama kali aku liat sampulnya, aku agak mengeryitkan jidat gitu, soalnya aku kira buku-buku buat ibu-ibu. tapi pas liat judulnya, aku jadi super penasaran sama isinya. Judulnya adalah "17 Tahun Usiaku, Gadis Yang Terlahir 500 Gram dan Buta". Kisah nyata ini menceritakan kehidupannya Miyuki Enoue dan Ibunya. Ayah Miyuki meninggal karena kecelakaan waktu dinas ke luar kota. Karena itu, Ibu Miyuki yang lagi mengandung jadi sedih yang berlarut-larut, dan melahirkan Miyuki secara prematur. Waktu itu Miyuki lahir dengan berat 500 gram dan buta, padahal bayi yang normal seharusnya lahir dengan berat 3000 gram. Banyak sekali cobaan yang dialami Ibu Miyuki. Aku paling suka pemikirannya dia waktu itu.
Dia berpikir untuk mati berdua dengan Miyuki. Dia ingin untuk lompat ke sungai bersama Miyuki. Tapi, waktu itu Ia berpikir, bagaimana kalau salah satu dari mereka tidak mati? Maka dari itu, Ibu Miyuki berencana untuk mencekik Miyuki dulu, baru bunuh diri. Tapi, Ia tak tega mencekik bayi kecilnya itu. Daripada stres memikirkan kematian, Ibu Miyuki berpikir lagi. Ia rasa jauh lebih baik jika hidup seperti ini, walau harus menanggung penderitaan daripada mati. Akhirnya, Ia pun memutuskan hidup berdua bersama bayi kecilnya.
Keseharian Miyuki dengan Ibunya sangat menarik. Miyuki di didik layaknya orang normal sama Ibunya. Jadi, walaupun buta, Miyuki tetap bisa beraktivitas seperti biasa layaknya orang normal. Dan waktu SMP, Miyuki memenangkan lomba pidato khusus orang buta tingkat nasional. Karena banyak yang terinspirasi dengan sifat Miyuki yang tegar, akhirnya kisahnya pun dijadikan buku yang ringan, tetapi penuh makna.
Aku suka banget bukunya. Sangat inspiratif. Tulisannya melahirkan tekad yang kuat dalam diriku, kalau aku pasti bisa tegar dalam menghadapi masalahku. Pokoknya keren!
Setelah beberapa waktu berlalu, masalah-masalah pun mulai bermunculan. Mulai deh masa-masa stres setelah lama bersenang-senang. Waktu itu, aku sama anak-anak jurnalis disuruh bikin mading untuk lomba UKS. Karena aku menjabat jadi wakil ketua, dan ketuanya udah kelas 3, jadinya aku deh yang ngatur.
Aku udah bikin konsepnya dan ngatur sedemikian rupa kapan deadlinenya, jadi mading dapat dibuat dan jadi minimal H-2. Aku juga udah ngasi tugas ke anak-anak untuk bikin artikel. Pokoknya kerjaanku beres.
Tapi, nggak terasa seminggu berlalu, dan udah deadline. Tapi... kok belom ada yang ngumpul??
Aku jadi panik. Aduh gimana nih? Akhirnya ada satu orang yang ngumpul artikelnya pas pulang sekolah. Tapi yang lainnya pada kemana?? Karena itu, aku pun bikin rencana B. Aku kasi mereka kesempatan untuk ngumpulin artikel mereka setelah Idul Adha.
Tapi, setelah Idul Adha pun nggak ada perubahan. Tetep aja mereka nggak ada kabar. Aku jadi khawatir kalo mading nggak bisa jadi pas hari H. Padahal, mading ini untuk lomba UKS tingkat provinsi, yang bisa dibilang cukup bergengsi. Setelah aku berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk sedikit menggertak mereka. Jurnalis itu nggak boleh manja. Kalo aku bilang deadline, ya tetep deadline. Apalagi, aku udah berbaik hati ngasi mereka kesempatan sehari full. Kalo aku tetep lembek kayak gini, jurnalis kita nggak akan maju-maju. Dan karena bukan bakatku marah-marah, aku pun smsin satu-satu anak jurnalis. Begini isi smsnya :
"Untuk yang ditugasin buat bikin mading UKS...
sekarang udah lewat deadline.
sedangkan tgl 31 mading kita udah harus jadi.
kapan kalian mau ngumpul?
senin aq nggak masuk. Kalo artikel kalian mau nggak diedit, gpp. print sendiri.
Tapi apa kalian yakin 100% sama artikel kalian? Yakin nggak perlu diedit?
Pokoknya besok kalian sekolah jam 9 untuk bikin mading. Yang mau ngumpul sekarang, aku masih ada di xi IPA 6 sampe jam 12.30. Yang belum jadi, silakan print sendiri tanpa edit. Yang punya tugas belanja, bsk bawa alat-alatnya. Kalo besok nggak dateng, pokoknya senin aku nggak bisa dateng. Kasi tau temen-temen lain. Thx."
Aku kirim ini untuk 10 lebih anak jurnalis, dan pulsaku langsung abis.
Kalo dipikir-pikir, Miyuki bisa jadi mandiri gitu karena didikan Ibunya yang selalu membiarkan Miyuki. Maksudnya, walau Miyuki jatuh, Ibunya tidak akan membantunya berdiri, sehingga Miyuki dapat berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Hal itu pun menumbuhkan rasa percaya diri Miyuki.
Aku jadi berpikir, kalau anak-anak jurnalis terus dimanja dan dibantu terus menerus, mereka nggak akan bisa berdiri sendiri, dan itu juga merepotkanku. Aku pun jadi berpikir untuk tidak membantu mereka, selama mereka masih bisa berjuang sendiri.
Setelah aku mengirim sms itu, selang 15 menit, banyak anak-anak kelas 1 yang nyari aku dengan panik di kelas. Akhirnya mereka pun mengaku kalau artikelnya belum selesai, dan minta pengampunan satu hari. Karena tidak ada jalan lain, aku pun memberikannya. Akhirnya, semua kerja.
Tapi, ternyata keinginanku belum mencapai maksimal. Masih banyak juga anak-anak yang lalai. Waktu hari senin, waktu aku nggak masuk, aku kira mereka udah nyelesaiin artikel mereka, yang aku liat tinggal sedikit lagi. Tetapi, sampai hari selasa waktu aku masuk, mereka belum selesai.
Selasa pagi ini bener-bener sial. Kotak pensilku yang nggak juga aku temuin bikin aku kepikiran sampai masuk ke mimpiku. Mungkin karena itu, aku jadi tersugesti, dan berpengaruh pada selasa pagiku. Pagi-pagi, sebelum ke sekolah aku mampir ke toko dulu buat beli pulpen dan pensil. Sampai di sekolah, aku kaget banget, ternyata kelasku udah mulai belajar 14 menit yang lalu. Padahal bel masuk aja belum mulai. Ternyata, kelasku mulai lebih awal 30 menit gara-garanya nggak olah raga, dan diganti pake belajar materi. Tapi aku nggak kepikiran kalau mulainya 30 menit lebih awal. Padahal aku kira mulainya bersamaan sama kelas lain. Alhasil, aku pun dimarahin dan dipermalukan di kelas. Sumpah, rasanya jelek banget. Bayangkan, aku harus lari ditempat selama 5 menit di depan kelas sendirian. Di depan kelas, sendirian. Setelah selesai, dan baru saja duduk, tiba-tiba Ria, temen jurnalisku manggil aku dan nyuruh aku dispen. Aku terselamatkan. Guru itu pun ngamuk, dan aku cepet-cepet kabur. Beberapa jam kemudian, aku baru tahu kalo aku dikasi alfa. Sialan.
Aku yang udah di ruang Litbank bersama 9 anak jurnalis lain pun mulai kerja. Yang tugas bikin artikel pun ngebut, dan bisa selesai hari itu juga. Alat-alat juga udah lengkap. Akhirnya, kita pun bisa kerja dengan lancar.
Mading UKS pun akhirnya selesai tepat pada waktunya. Aku lega sekaligus capek banget. Aku jadi batal ke tukang jahit sama Wina gara-gara capek yang luar biasa. Dari pengalaman bikin mading kali ini, ada pelajaran yang aku petik.
Ternyata, nggak selamanya sifat baik hati itu baik. Kadang, sifat keras pun dibutuhkan, walau tidak berlebihan. Sifat keras dibutuhkan untuk memacu mereka untuk bergerak, dan sifat baik hati digunakan ketika mereka berhasil. Aku yakin, pasti itulah yang dipikirkan dan dirasakan Miyuki dan Ibunya, sehingga mereka bisa terbebas dari cobaan hidup dan dapat menikmatinya sekarang. Aku berjanji, akan menjadi orang yang kuat dalam menghadapi sesuatu, dan bisa menggandeng teman-temanku dengan bijaksana. Ganbatte kudasai!!
